Optimalkan Linux Anda! #1

Well, sejak dari tahun 2008 saya menggunakan OS linux, selama 3 tahun lebih menggunakan Ubuntu dan Debian, dan baru 3 hari ini menggunakan Fuduntu yang merupakan turunan Fedora. Hampir tidak ada perbedaan antara Ubuntu dan Fedora. Setidaknya dalam pendangan awam saya tentang linux. Saya bukan ahli, hanya orang yang suka ngutak-atik sambil lihat beberapa tutorial di internet (yang biasanya saya lupa lagi setelah sekian waktu tidak mempraktekkan tutorial tersebut).

Kenapa make linux?

Jawaban pertama adalah karena linux jarang yang make! Biasanya rekan-rekan di sini pada make windows, dan windowsnya rata-rata barang dari paktani. Menurut saya, pasaran banget gitu loh!

Jawaban kedua adalah karena gratis dan legal. Yah, OS ini adalah OS yang halal! Well, saya hanya sayang aja kalo musti ngeluarin uang hanya untuk mendapatkan barang yang memiliki subtitusi gratisan. Yah, dari segi tampilan dan performa, Windows7 sangat keren dan bagus! Ringan dan cepat. Tapi kok ga selengkap linux untuk beberapa aplikasi yang standar. Dan kesannya Windows dipake hanya untuk main game doang (Dan saya tidak terlalu suka nge-game). Sedangkan Mac menurut saya terlalu mahal di kantong. Keren sih, cuman kalo mahal yaa gitu deh.

Jawaban ketiga adalah karena bebas virus! Tau sendirilah akibat sering colok usb di sembarang komputer..

Okey.. Setelah blogwalking dan baca beberapa postingan tentang optimalisasi Mac, ternyata linux saya yang gratisan punya fitur yang ga kalah jauh dengan Mac. Sampai-sampai saya heran, untuk tweak yang sederhana kek gitu udah sering saya lakukan di linux saya.

Berikut beberapa tweak sederhana yang biasa saya lakukan di desktop linux saya;

1. Install “Ailurus

Berikut screenshot di desktop saya;

Berikut Quote dari situsnya langsung;

What is Ailurus?

Ailurus is cross-Linux-distribution GPL software. It is a simple application installer and GNOME tweaker, which aims at making GNOME easier to use.

Who is the target audience of Ailurus?

The target audience of Ailurus is the GNOME users.

What does Ailurus hope to do?

Ailurus hopes to reduce the difficulty which newcomers encounter when they are using GNOME.

Ailurus hopes to promote popular open-source software.

Ailurus hopes to promote open-source software which is elegant but has not entered official repository.

What can Ailurus do?

Ailurus can …

  • display Linux skills
  • install popular software
  • change GNOME settings
  • display hardware information
  • enable some third party repositories#
  • clean apt/yum cache#
  • backup and recover apt/yum status#

the features marked with “#” support Ubuntu/Fedora only

Jadi begitulah! Buat newbie kek saya, tools ini berguna buanget! Cara installnya gampang kok.

Untuk Ubuntu user;

Sudo apt-get update && sudo apt-get install ailurus

Untuk Fedora User;

sudo yum update && sudo yum install ailurus

#mohon dikoreksi perintah install di fedora kalo salah yah!

Yang saya oprek lewat Ailurus;

  • Rapiin tampilan Dektop. Buang semua shorcut di desktop biar lega & irit memori
  • Tambah/kurangi list repository + install dari repo
  • Tweaking nautilus

2. Install “bleachbit”

Ini screenshot di kompi saya;

Yang seringkali saya lakukan setelah menginstall OS baru adalah install bleachbit. Fungsi utama dari bleachbit adalah membersihkan memori serta beberapa cache yang menumpuk.

Tools keren di bleachbit;

  • Hapus localization. Banyak bahasa yang terinstall di dalam OS ini. Saya hanya memilih satu bahasa saja dan membuang selainnya. Lumayan mengurangi space 200-400 megaan dari hapus menghapus ini.
  • Membersihkan temporary files, thumbnails dan cache. Semakin jarang dibersihkan semakin menumpuk sampah-sampah yang ga kepake.
  • Menghapus apt/paket update

Dari proses yang saya lakukan, biasanya space yang bisa diselamatkan sebesar 600 mega sampai 2,3 giga.Lumayan! Di desktop yang saya pakai ini, Fuduntu memakai partisi sebesar 13 giga, namun space yang digunakan hanya 4-5 gigaan saja. Jadi sisa 7,8 giga itu masih kosong.

He he.. sepertinya baru 2 hal ini dulu yang ditulis! Tips-tips yang lain nyusul!

#capek ngetik…

Review Fuduntu 14.11

Saya rasa kebanyakan pemakai Linux akan mengernyitkan dahi ketika disodorkan nama Fuduntu. Itulah ekspresi pertama kali saya ketika membaca sebuah review ini. Saya pikir ini adalah distro turunan dari Ubuntu. Ternyata saya salah, distro ini adalah turunan dari Fedora!

Wew… Inilah sebabnya meski saya telah mendownload iso file dari Fuduntu 14.11, saya belum tertarik untuk mengoprek daleman distro ini sesegera mungkin. Saya diamkan saja selama dua minggu. Soalnya beberapa hari sebelumnya saya mendownload iso dari Joli OS yang ternyata harus membutuhkan koneksi internet guna masuk ke dalam desktopnya. Maklum, desktop yang ngandalin cloud computing. Sementara koneksi yang saya gunakan hanyalah melalui modem smartfren yang dalam versi Joli OS terbaru, network managernya belum mampu mendeteksi modem saya. Mungkin bisa lewat console, tapi saya malas. Buang-buang waktu saja, saya pengen nyari yang simpel aja kok.

Jadi sementara itu, saya masih nggunain desktop linux mint debian xfce yang sudah beberapa bulan nangkring di lapie saya.Sebenarnya saya suka menggunakan linux mint yang versi Ubuntu. Tapi entah kenapa versi linux mint 9 keatas kok performanya mengecewakan. Sering nge-lag di netbook saya. Gimana ga dongkol, resource yang digunakan waktu idle saja sudah hampir 40%! Belum lagi ketika digunakan untuk browsing, nonton dan nyetel mp3. Makanya saya pindah ke versi debian karena lebih ringan dibandingkan versi ubuntu.

Unity dan gnome 3 yang aneh juga mempengaruhi kepindahan saya dari linux mint ubuntu ke linux mint debian. KDE mungkin bukan pilihan utama (dan sepertinya ga pernah jadi pilihan utama) karena memori yang lebih “wah” dibandingkan dengan gnome. Dan tampilannya seolah-olah saya menggunakan windows. Sempet nyoba Pardus, tapi yaaa begitulah. Cuma sempet 1 jam doang nangkring di lapie.

Entah kenapa versi gnome linux mint debian makin berat digunakan di lapie saya. Saya pikir karena efek desktop saya yang berlebihan. Tapi ternyata ga juga, paling saya cuma menggunakan efek “wobbly windows” doang. Efek “cube”, “api”, “air” dan efek-efek yang lainnya jarang saya gunakan. Malah akhir-akhir ini ga pernah saya ngaktifin lagi efek-efek yang “wah” itu. Ga ada gunanya! Cuman iseng doang!

Akhrinya saya berpindah ke desktop XFCE. Memang sih jauh lebih ringan dibandingkan gnome. Tapi yaa itu, sedari pertama menggunakan gnome terus tiba-tiba harus ganti ke desktop yang lain, jadi ada rasa gimanaaa gitu.

Sampai akhirnya, saya install Fuduntu 14.11 di usb dengan menggunakan unetbootin.

Komentar pertama; “Weleh, kok mac buanget!”

Well.. Mirip ini bukan?

Mirip-mirip gimana gitu… He he..

Tapi bukan itu yang bikin kaget, pas ngeliat resource yang digunakan, hanya sekitar 250an mega untuk tampilan seperti itu dan lewat mode booting usb. Saya pikir kok ringan banget gitu. Beda banget pas nggunain ubuntu ato linux mint. Jauh lebih berat dibandingkan Fuduntu!

Kemudian saya cek network manager sambil nyolokin modem. Eh kedetect! Berarti aman! Berani nyoba install di lapie. Beberapa kali saya mentok karena masalah modem ini. Koneksi internet saat ini jadi kebutuhan utama ketika menggunakan laptop.

Yang pasti pertama kali saya ngerasa jetlag ketika memakai OS ini. Biasanya make debian based sekarang memakai fedora based. Tentu memang beda.

Berikut tampilan si Fuduntu setelah saya permak sana-sini;

Ga mirip-mirip banget-lah ama mac.

Yang bikin seneng, resource yang dipake ketika idle setelah booting kek gini;

Ga segitu ringan kek Crunchbang! sih.. Tapi worthed lah pengorbanan resource yang minim biar dapet tampilah yang cakep. Apalagi Crunchbang make Openbox yang jauh lebih ringan tapi belum pernah saya gunakan.

Penggunaan normal, seperti buat ngenet, nonton, nyetel mp3, edit tulisan pun lancar jaya di OS ini;

Segitu banyaknya ternyata RAM yang digunain cuman 800an mega!

Kalau di distro versi Ubuntu, ada yang namanya Ubuntu Tweak, lha kalau disini namanya Ailurus;

Efek yang saya gunain cuma “wobbly windows” ama “expo” <– ga tau namanya;

Yang pasti, ga terlalu ringan juga ga terlalu berat…

Tapi ada juga beberapa kekurangan OS ini;

1. Ga ada openoffice/libreoffice! Wew, untuk ukuran iso OS sampai 900 megaan, ini termasuk kekurangan yang terasa banget. Emang, kepakenya cuman buat orang yang suka nulis sama orang kantoran. Tapi tetep aja yang namanya office apps, penting banget buat sebuah OS linux.

Tapi asal ada koneksi internet tambahan, masalah ini dapet diselesaikan secara adat kok.

2. Koneksi internet pake modem? Saya sarankan pakai wvdial! Sederhana tampilannya (cuman console doang) tapi agak susah payah di awalnya. Bagi pengguna newbie, apalagi yang windows dan mac minded, penggunaan wvdial terkesan ribet. Tapi setelah disetting cuma sekali, kenikmatannya terasa berkali-kali apabila dibandingkan menngunakan Network Manager.

3. Ketika setelah startup, keyboard sekali dua kali nge-lag. Setelah itu lancar jaya sih, tapi tetep aja mengganggu.

4. VLC di lapie saya ga singkron antara sound dengan tampilan. Ada jeda antara bibir aktor dengan sound yang keluar. Serasa nanton film dubbingan. Tapi bisa diakali dengan mengganti VLC dengan SMPlayer.

5. Tidak ada tampilan “extract  here” di nautilus. Sederhana sih, tapi lumayan mengganggu;

Kesimpulan;

Overall, OS ini sangat bersahabat buat saya. Dalam tempo 2 hari penggunaan, langsung saya set jadi OS utama di dalam lapie saya. Pengaturan yang mudah, tampilan yang cantik dan penggunaan resource yang bersahabat membuat saya tidak pikir panjang langsung meminang OS ini menjadi OS utama.

Memang ada satu dua kekurangan yang telah saya sebutkan diatas, namun jika punya koneksi internet yang lumayan lancar, kekurangan itu dapat segera diatasi kok. Tinggal update dan download aplikasi yang diperlukan lewat repository.

OS ini ga terlalu beda banget dengan OS yang debian based. Cuma perlu penyesuaian sedikit saja. Setelah itu hampir sama semuanya. Linux gitu loh.

Jika anda tertarik menggunakan OS ini, ada berita bagus. Fuduntu adalah OS yang menggunakan sistem Rolling Release! Jadi tidak perlu bingung ketika ada iso yang keluar baru, karena dengan update biasa aja sistem kita udah sama dengan iso terbarunya.

Fuduntu bisa didownload di link ini. Tinggal pilih saja versi yang ingin anda gunakan.

Unthinkable

Jujur, saya ga tahu harus memulai dari mana ketika ingin menuliskan tentang film ini. Unthinkable. Yang tidak terpikirkan.

Film ini bercerita tentang terorisme. Dimulai ketika Steven Arthur Younger mengancam akan meledakkan tiga bom nuklir di tiga tempat di Amerika. Video ancaman ini segera booming melalui berbagai media televisi. Agen Brody yang ketika itu menyelidiki tentang jaringan terorisme merasa kecolongan dengan ancaman bom ini. Sebab ia tidak menyangka bahwa langkah divisi anti terorisme di FBI tempatnya bekerja kalah satu langkah dengan apa yang dilakukan Younger.

Sebuah kebetulan pada saat itu anak buahnya menyisir lokasi yang terlarang oleh CIA karena berkaitan dengan seseorang yang memiliki kebal hukum tak tertulis. Ia bernama Henry Herald Humphries atau di dalam film ini dipanggil dengan nickname “H”. Ia kebal hukum, terlindungi dan mempunyai autoritas di dalam wilayah khusus. Bahkan jenderal saja tak mampu “melawan” orang ini.

Yang menarik adalah mengenai penyelidikan ancaman bom ini. Rahasia dan tempatnya tidak diakui oleh negara. Dianggap “tidak ada”. Selain itu fakta yang mengejutkan adalah ternyata Younger telah tertangkap dalam hitungan jam setelah menyebarkan ancaman bom nuklir lewat televisi. Tertangkap bukan karena kabur, tapi karena ia dengan sengaja memancing dirinya untuk ditangkap dengan nangkring di depan kamera keamanan sebuah mall.

Disinilah thriller ini menanjak membuat dada berdegub kencang. “H” ternyata adalah salah seorang interogator superpower. Ia memiliki kewenangan lebih dengan menunjukkan metode interogasi yang sadis. Mungkin yang sekilas pernah nonton “Bourne Ultimatum” tahu mengenai metode interogasi yang “normal”. Metode normal adalah dengan tidak membiarkan tahanan tidur barang sejenak. Tahanan disekap dalam ruang yang terang menyilaukan mata, mengguyur air dan membiarkan tahanan berdiri dengan paksa karena diikat dengan tali. Dan metode “normal” ini diketahui oleh Younger karena ia adalah mantan tentara Amerika. Disinilah peran “H” membuat dada berdesir. Kenapa? Karena pada awal film dimulai, karakter “H” ini adalah seorang ayah yang penyayang terhadap anak-istrinya. Family man. Namun ketika menginterogasi Younger ia menunjukkan karakter penyiksa seperti dalam film “SAW”. Sadis dan berdarah dingin! Oleh sebab itu film ini memiliki rating “R”, dan besar kemungkinan tidak akan ditayangkan di bioskop setempat (dan pasti! Sebab film ini diproduksi tahun 2010 dan saya belum pernah melihat iklannya di bioskop Indonesia).

Disinilah karakter yang sangat kuat diperankan oleh Samuel L Jackson sebagai “H”. Seorang Family man yang ternyata memiliki peran sebagai interogator yang sadis dan berdarah dingin. Film ini mengajak penontonnya untuk berpikir tentang batas antara benar dan salah yang ambigu. Di saat keadaan yang genting dan mendesak, film ini berbicara mengenai moral. Mengenai benar atau salah.

There is no H. and Younger… there’s only victory and defeat. The winner gets to take the moral high-ground, because they get to write the history books. The loser… just loses. The only miscalculation in your plan… was me

Namun salah satu kelemahan yang sangat saya benci adalah film ini membawa-bawa nama Islam! Islam memiliki hubungan tentang terorisme! Itulah pembuka yang basi di dalam film ini. Eneg. Saya ga tahu apakah ini disengaja, karena pada akhirnya definisi yang dibawa bukanlah Islam. Bahkan Islam tidak ada hubungannya sama sekali dengan film ini. Cuma pembuka yang sangat basi!

Isu ini sangat sensitif, karena pada akhirnya ketika berbicara mengenai terorisme, ia adalah isu global. Bukan Islam. Bahkan dalam durasi film selama satu setengah jam ini, Islam hanya menunjukkan apa keyakinan Younger dan keluarganya. Selain itu ga ada! Bahkan tuntutan yang diajukan oleh Younger kepada “H” dan pemerintah Amerika sangat sederhana dan ga ada hubungannya keyakinan. Tuntutannya hanya dua; yaitu agar Amerika memberikan konferensi pers tentang pencabutan dukungan terhadap rezim diktator di negara-negara Islam dan penarikan pasukan Amerika dari wilayah negara-negara Islam. Tidak ada perbedaannya ketika label “Islam” di dua tuntutan itu digantikan oleh merek yang lain.

Tapi sekali lagi, film ini sebenarnya mengajak berpikir mengenai moral. Sebab di dalam film ini banyak plot hole yang mengambang. Pertanyaan bagaimana Younger merakit bom, bagaimana pasokan uranium sebagai bahan bom nuklir itu di dapatkan, bagaimana jaringan yang dibangun oleh Younger, bagaimana Younger beraksi sebagai “one man show” serta pertanyaan-pertanyaan logisnya tidak bakal terjawab. Bahkan jika terjawab-pun masih menyisakan berbagai pertanyaan yang lain. Karena pada dasarnya, isi yang disajikan di dalam film ini adalah konflik moral antara “H” dengan agen Brody. Konflik moral antara “negara” yang menggunakan “H” untuk melakukan berbagai teknik interogasi kotor kepada Younger.

Agent Helen Brody: How could you do this? How could you?

Steven Arthur Younger: You wanted proof. I needed a break. I can hold out now.

Agent Helen Brody: It was a shopping mall! 53 people are dead!

Steven Arthur Younger: That was your fault! God loves them. They’re martyrs, all martyrs.

Agent Helen Brody: 53 of them. 53 bodies blown to pieces!

H: Don’t do it Brody!

Agent Helen Brody: [picks up scalpel and holds it to Younger’s chest chest] Shut up! Where are those bombs? Where are those fucking bombs?

Steven Arthur Younger: Do it! Do it! I love my country, you people crap on it! I love my religion, you people spit on it! Just remember something, I’m here because I wanna be here! I let myself be caught, because I’m not a coward! I chose to meet my oppressors face to face! You call me a barbarian? Then what are you? What, you expect me to weep over 50 civillians? You people kill that number every day! How does it feel Brody? This is not about me! This is about you! How does it feel? You have no authority here! None! There is but one authority, and it is not you! You are a blight, you are a cancer! How does it feel Brody?

Yah.. Dalam sebuah film, dialog di dalamnya memiliki kekuatan. Runut dan mudah dipahami. Mungkin tidak ada aksi khas Hollywood yang penuh dengan tembakan serta ledakan. Yang ada hanyalah dialog dan konflik yang diperankan sangat apik oleh ketiga tokoh utama; “H”, agen Brody dan Younger.

Sekali lagi, Islam di sini hanyalah “bumbu” kebencian khas Hollywood. Jika ia diganti dengan ideologi yang lain hasilnya-pun sama. Sebab memang di dalam film ini hanyalah berbicara mengenai moral dan berbagai pekerjaan kotor yang jauh dari nurani di kala keadaan yang mendesak. Film ini mengajak untuk berpikir serta merenung. Merenung tentang batas yang sangat ambigu di kala konflik merebak, batas antara benar dan salah yang dipermainkan oleh keadaan..

LTAM #4; Ce I eN Te Aa

Let’s Talk About Marriage part 4

Cinta. Ada apa sih dengan Cinta? Apakah masih menunggu si Rangga balik dari Amerika? Hingga ia ga perlu memecahkan bergelas-gelas agar mengaduh sampai gaduh.

Atau sedikit intermezo dengan memetik gitar lantas bersenandung; “setia satu ce i en te a”

Well farewell..

Terlalu luas jika berbicara tentang kecintaan umat kepada perintah Alloh melalui rasulnya. Hingga dalam skala materi orang kafir berkata; “Rugilah Suhaib”

Namun sang Rasul berkata sebaliknya..

Terlalu luas pula jika cinta adalah sebuah pengejawantahan kepedulian terhadap umatnya ketika sang Rasul di akhir hidupnya berkata; “Ummati.. Ummatii.. Ummatii..”

Terlalu luas jika cinta adalah realisasi dari para bunda yang rela berberat-berat menahan kandungannya demi sang buah hati.

Terlalu luas kecintaan itu jika dibandingkan ketika salah seorang menteri berkata kepada junjungannya Umar bin Abdul Aziz; “Wahai baginda, di negeri ini semuanya telah berkecukupan kecuali baginda dan saya”

Namun cinta yang terkadang disikapi secara mengharu biru ini hanyalah cinta diantara dua anak manusia. Yang memunculkan kisah fenomenal Layla Majnun, Romeo Juliet, Samson Delilah, Sitti Nurbaya, Helen of Troy dan sebagainya..

Yah..

Apasih cinta itu?

Saya tidak mampu menjawabnya. Cukuplah segala rasa yang bercampur aduk menjadi satu menjadi jawabnya.

Lantas rasanya seperti apa?

Sayang sekali susah bagi saya menjabarkannya. Ibarat saya suka minum jus alpukat sedangkan anda lebih suka minum jus jambu kemudian anda menyuruh saya menerangkan apasih nikmatnya minum jus alpukat?

Susah..

Namun ketika tiba masanya, pertanyaan itu akan terjawab. InsyaAlloh..

Lantas kenapa bicara tentang cinta? Apa saya sedang jatuh cinta?

Yaaah.. Bingung juga yah.. Entah kenapa topik ini sudah pengeeen saya tulis sejak lama. Namun kok saya belum nemu mood yang pas buat nulisin tentang cinta picisan ala saya. Dan sialnya memang saya bukan orang yang puitis yang mendayu-dayu merangkai kata penuh dengan perasaan yang dalam. Saya cukup menjadi seorang penulis amatiran yang terlalu logis untuk menjadi romantis.

Hayoo.. Ngaku saja kalau sedang jatuh cinta.. Bener kan?

Menurut pendapat saya, ada dua jenis penerimaan cinta. Yang satu adalah “jatuh cinta”, frase yang seringkali dipakai dalam bahasa cinta sehari-hari. Laris manis tanjung kimpul bak kacang goreng.

Kejadiannya mendadak. Impulsif! Kalau bahasa Solo Jogya disebut dengan “mak jegagik”, “mak bedunduk”.

Ia tumbuh dengan spontan. Entah mungkin bibitnya sudah disemai secara tidak sengaja dan tidak disadari. Lantas ia baru sadar ketika bibit itu sudah tumbuh menjadi pohon kayu.

Bibit itu entah tersemai dari pertemuan yang rutin, perhatian yang intim dan keakraban yang lekat.

Pokoknya dari sesuatu yang sederhana menjadi bermakna.

Lantas ketika sudah tumbuh. Pertemuan yang tadinya biasa menjadi ada rasa. Ada salah tingkah dan salah persepsi ketika bertemu atau bahkan ketika mendengar namanya disebut.

Maka dikatakan, ia telah “terjatuh” dalam.. Ehm.. Saya tidak nyaman menyebutnya cinta, saya lebih nyaman menyebutnya; “suka”

Jalan kedua dalam langkah cinta adalah “bangun cinta”. Jenis cinta yang menurut saya langka. Meski ia bukan jenis yang terancam punah. Namun jarang saja di jaman sekarang untuk memulai sesuatu dengan membangunnya.

Menurut saya, kategori cinta ini adalah sebuah cinta yang bisa memilih objek yang akan dicintai. Ia adalah sebuah konsekuensi atas sebuah pilihan untuk memilih. Ia leluasa untuk menentukan objek mana yang akan ia cintai.

Cinta ini tidak terjadi begitu saja. Namun saya rasa prosesnya sama. Jatuh cinta ibarat bibit yang tumbuh tak sengaja di tanah yang subur dibandingkan bangun cinta yang diumpamakan dengan bibit yang tumbuh di tanah yang tidak begitu subur namun ia dirawat dengan baik.

Yang pasti dua-duanya bisa tumbuh atau sebaliknya. Mati karena satu dan lain hal.

Cinta yang memilih ini adalah cinta proaktif. Namanya membangun tidak ujug-ujug langsung jadi kan? Ia butuh proses dan tentunya butuh usaha.

Rumit banget yah? Bagusan yang mana emang?

Jika menganggap bagus atau tidak, ini sudah masuk di wilayah subjektif. Kalau menurut saya dua-duanya bagus ASAL ia berjalan di koridor penghambaan kepada Alloh.

Tapi jika saya ditanya tentang sebuah kecenderungan, saya akan memilih cinta yang membangun.

Kenapa?

Karena saya ketika mengazamkan diri untuk membangun sesuatu, saya bertindak secara sadar akan pilihan saya. Mungkin inilah keegoisan saya yang pemilih.

Sesuatu yang dilakukan secara sadar jauh lebih saya sukai dibandingkan keputusan “kecelakaan”. Bagaimanapun keadaannya, ketika ada pilihan diantara beberapa hal jauh lebih saya sukai dibandingkan dengan keadaan dimana saya tidak bisa memilih.

Jadi saya menganggap bahwa mencintai adalah sebuah pilihan meski kadang kecenderungan itu tetap ada sekecil apapun.

Namun yang pasti ada sebuah kaidah; “Cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab”

Dan inilah yang mendorong keyakinan saya bahwa Alloh adalah sebab yang utama untuk mencinta. Karena hasrat, keinginan, kecenderungan pasti suatu saat akan lenyap, namun Alloh akan tetap kekal.

Semoga ketika pada saatnya, Alloh memudahkan segala urusan..

Profesi; Ibadah

Suatu ketika saya membeli ikan segar yang dijual di pinggir jalan dekat kontrakan saya. Maklum, tinggal di dekat pesisir pantai. Jadi hampir setiap sore ada nelayan yang menjual hasil tangkapannya setelah melaut sepanjang hari. Meski jujur, harganya termasuk lumayan mahal jika dibandingkan dengan posisi geografis Banda Aceh yang berada di pesisir pantai. Tapi lumayanlah.. Jauh lebih puas ketika memasak sendiri dibandingkan membeli di warung. Ada sisi-sisi refreshing ketika menggoreng ikan. Meski jujur saja, kucing saya si Bruno terkadang merasa enggan memakan hasil prakarya saya ini.

Biasanya saya membelinya sebelum atau sesudah sholat maghrib. Sekitar jam 7-8an waktu setempat. Jam segitu memang waktunya sholat Maghrib di Banda Aceh, jauh beda dengan kampung halaman saya di Karanganyar yang berkisar 5.30-6.30an waktu sholatnya. Waktunya pas sekali untuk membeli ikan. Sebab, setelah maghrib saya bisa membumbuinya serta mendiamkannya selama beberapa saat agar bumbu itu meresap dalam daging. Setelah isya barulah ikan ini dieksekusi di penggorengan.

Singkat cerita, yang namanya orang jualan ikan pastilah “bersenjatakan” pisau serta “peraut” sisik. Dua alat yang sangat vital. Pembeli tinggal pulang membawa ikannya yang sudah dibersihkan sisiknya serta jeroannya. Membawa pulang ikan yang sudah termutilasi dan tinggal dibersihkan serta dibumbui.

Yang namanya mencincang ikan, pastilah bukan pekerjaan bersih. Ia pasti terkotori oleh percikan darah serta daleman jeroan ikan. Tak lupa dengan bau amis ikan yang khas. Makanya tampilan para nelayan sekaligus penjual ikan ini cenderung kotor dengan kaus lusuh serta percikan daging ikan di sana-sini. Selain itu, karakter pelaut cenderung keras. Maklum, pekerjaan yang digeluti tidak “seaman” petani dan pedagang. Ia menghadapi karakter alam yang ganas. Berada di tengah lautan bermodalkan perahu kecil yang melihatnya saja membuat miris. Kecil dan terlihat rapuh dibandingkan dengan lautan yang sangat luas.

Tapi bukan ini yang menjadi persoalan. Wajar ketika mencari rezeki tubuh penuh dengan peluh serta kotoran. sangat wajar. Namun yang membuat miris adalah ketika saya membeli ikan ini waktunya sangat dekat dengan waktu sholat maghrib.

Saya bertanya-tanya di dalam hati apakah para nelayan ini sempat untuk sholat maghrib? Mengingat kondisi baju dan tubuh yang kotor sangat tidak layak untuk beribadah menghadap kepada Alloh. Bisa, tapi kurang afdhal ketika dihadapkan kepada situasi bahwa yang dihadapi adalah Sang Pencipta. Lha wong mau bertamu ke rumah orang aja kadang mantes-mantesin buat make baju yang cocok kok, masa’ menghadap ke Sang Pencipta pake baju lusuh kek gitu. Meski yaa sah-sah saja ketika baju sudah menutup aurat dan tidak ada najis yang menempel. Tapii yaa itu. Kalau dalam pepatah jawa berbunyi; “Ngono yo ojo ngono”.. Bisa sih begitu, tapi mbok ya jangan begitu lah..

Keadaan ini membuat saya miris. Miris karena saya hanya mampu bertanya di dalam hati, sementara untuk menanyakan lewat lisan saya tidak berani. Miris karena nggak bisa berbuat apa-apa.

Tapi satu hal yang bisa disyukuri adalah bahwa seberat-beratnya sebuah profesi atau pekerjaan, adalah pekerjaan yang mampu menyisihkan waktunya untuk melaksanakan ibadah. Sebenarnya esensi yang ada, ketika sebuah kegiatan dianggap sebagai ibadah, insyaAlloh maka ia akan dihitung sebagai ibadah. Kalau bisa meniatkan setiap kerja adalah ibadah yaa syukur sekali. InsyaAlloh pahala bakal mengalir, tapi minimal dalam setiap waktu kerja ada waktu untuk melaksanakan kewajiban kita beribadah wajib. Tidak mengakhirkannya namun mengawalkannya ketika waktu itu hadir.

Jujur, sebuah hal yang “sepele” ini terkadang tidak mampu dipenuhi. Ada saja kejadian-kejadian yang membuat kita mengakhirkan waktu-waktu ini. Padahal jika menyempatkan, masih bisa dan mampu kok mengawalkannya. Toh jika dibandingkan dengan keadaan nelayan yang saya tuliskan diatas, keadaan saya jauuuuuh lebih baik dan mudah untuk melaksanakan ibadah ini.

Mungkin inilah yang perlu terus menerus saya syukuri dengan keadaan ini. Meski jauh terpisahkan dengan kampung halaman. Meski tiap hari melihat serta mendengar hal-hal yang seharusnya dilaksanakan namun tidak terlaksana, namun tetap ada kemudahan untuk melaksanakan kewajiban beribadah. Tidak ada yang melarang! Hanyalah pada diri motivasi ini berpulang..

Semoga Alloh memudahkan dan memampukan dalam beribadah kepadaNya..

Profesi; Hitam Putih

Dalam memandang sebuah profesi, terkadang ada stigma yang melekat dengannya. Entah stigma negatif maupun positif. Bisa jadi karena pandangan umum yang digeneralisir atau karena pengalaman masyarakat umum terhadap sebuah profesi itu.

Namun dengan arus keterbukaan yang besar saat ini, terkadang stigma-stigma yang ada ternyata salah. Ternyata di setiap profesi yang digeluti ada sisi hitam dan putihnya. Misal tidak melulu dokter yang “berlabel” penolong ternyata berjiwa penolong, tidak melulu orang-orang yang aktif di lembaga sosial berjiwa sosial.

Arus informasi serta pengalaman yang ada seringkali merubah “label-label” yang melekat di balik profesi satu dengan yang lainnya. Misal lewat milis, twitter, blog dan berbagai media yang ada. Maklum, sekarang zaman internet yang ada di dalam genggaman. Tinggal browsing lewat browser mini, maka ketik sana-sini akan muncul berbagai macam arus informasi yang ada.

Terkadang ada juga satu dua pihak yang turut berbagi mengenai profesi yang saat ini mereka geluti. Tidak hanya yang baik-baik saja namun mereka berbagi pula ketimpangan yang ada. Ada keresahan dan kegelisahan di tiap profesi yang ada. Kegelisahan dan keresahan itulah yang membuat satu dua pihak itu berbagi keluh kesah lewat beberapa media.

Begitu pula dengan pengalaman. Dengan seringkalinya kita berinteraksi satu sama lain membuat wawasan yang ada bertambah. Dan seringkali kita dihadapkan kepada kenyataan-kenyataan yang ada. Baik pahit maupun manis.

Begitu pula dengan profesi yang saat ini saya geluti. Membuat saya tahu bagaimana sih seluk beluk pengelolaan keuangan di swasta maupun negeri. Ada hitam dan ada putihnya.

Terkadang merasa miris juga dengan kondisi yang ada. Ketika dihadapkan kepada penyimpangan instansi satu dengan yang lainnya. Di instansi saya kemungkinan penyimpangan itu ada. Namun saya rasa ketika melihat cakupan lingkungan kerja yang kecil ini, tidak “semengerikan” dengan kenyataan terhadap instansi tetangga.

Memang ada reformasi yang dicanangkan sejak awal 2000an, tapi memang butuh banyak waktu untuk mereformasi total. Langkahnya sudah jelas, namun perlu kesabaran untuk istiqomah di dalamnya. Minimal ketika kinerja belum maksimal, di sisi keuangan sudah lumayan bagus. Minim penyimpangan.

Sempat seorang sahabat mengeluhkan dengan kenyataan yang harus ia hadapi ketika berhubungan dengan “dapur” keuangan. Biaya-biaya “siluman” itu nyata! Dan memang ada! Dari berbagai lini dan berbagai instansi! Kemungkinan penyimpangan itu besar ketika berhubungan dengan uang. Dari seratus persen ada sekian persen untuk biaya ini dan biaya itu.

Saya sempat tercenung kaget ketika mendengar kenyataan yang ada. Bagaimana uang setan dimakan iblis. Dengan proyek satu memakan proyek yang lain. Malah terkadang saya sering merasa bahwa kenyataan hitam di dunia keuangan jauh lebih banyak dibandingkan yang manis-manisnya. Apalagi dihadapkan dengan perilaku beberapa pejabat yang haus akan kekuasaan. Bakal jauh lebih rumit.

Penyimpangan itu sangat mudah kok ketika melongok “dapur” instansi satu dengan yang lainnya. Misalnya saja apabila membandingkan antara penghasilan seseorang dengan gaya hidupnya. Jujur.. Menurut pendapat saya menjadi seorang pegawai negeri tidak akan membuat seseorang menjadi kaya raya! Tidak bakal seseorang menjadi pegawai negeri yang kaya, kalau cukup iya.. Tapi nggak bakal kaya kalau profesi seseorang itu hanya mengandalkan menjadi pegawai negeri saja.

Tentu dengan profesi yang saya geluti, saya dan rekan-rekan tahu berapa sih penghasilan profesi satu dengan yang lainnya. Memang faktor iseng itu ada untuk sekedar membandingkan profesi satu dengan profesi yang lainnya. Tapi itu tidak dominan. Tuntutan perkerjaanlah yang membuat saya tahu dan harus mengetahui berapa penghasilan yang diterima orang satu dengan yang lainnya.

Terkadang merasa miris ketika melihat instansi yang gedungnya dipenuhi oleh mobil pegawainya yang mewah dan mentereng. Sedangkan instansi itu tidak melayani tamu yang berlalu lalang semacam bank dan kantor pos. Yang kebanyakan keluar masuk gedung itu hanyalah para pegawainya saja. Tapi tongkrongan pegawainya sangat “wah”.

Kenapa musti miris? Karena saya tahu berapa nominal gaji yang diterima para pegawai tersebut seharusnya hanya cukup untuk menghidupi keseharian saja. Sedangkan ketika melongok kebutuhan terhadap mobil adalah sebuah kebutuhan sekunder yang apabila kebutuhan primer telah tercukupi maka baru akan bisa terlaksana. Kebutuhan sekunder ini adalah sebuah kebutuhan untuk beraktualisasi. Sedangkan mobil yang ada bukanlah mobil yang sekedar mobil, namun lebih mobil yang menonjolkan prestise seseorang yang mengendarainya.

Perasaan miris ini terkadang jadi senyum yang sinis ketika melihat instansi apa yang terpampang di papan namanya. Terkadang nyeletuk; “Oooh.. instansi basah”. Maklum kadang banyak proyek yang diada-adakan di instansi itu.

Tapi kadang profesi bisnis dan wirausaha-pun tidak bisa lepas dari hitam putihnya kehidupan. Adakalanya penyimpangan itu hadir di sisi supplier yang mengutak-atik harga dan jumlah stok. Ada yang mengutak-atik kuitansi dan faktur dan sebagainya. Ada hitam putihnya.

Segala informasi yang ada ini membuat saya sadar bahwa memang tidak ada profesi yang benar-benar suci dan bersih. Apalagi ketika bersinggungan dengan banyak manusia dan berbagai macam pemikiran. Pasti ada gesekan yang timbul antara penentang penyimpangan itu, pemaklum penyimpangan dan penikmat penyimpangan.

Saya jadi ingat dengan percakapan antara Buya Hamka dan muridnya. Suatu ketika dalam pengajiannya Buya ditanya oleh seorang muridnya, “Saya pernah pergi haji ke Mekkah, ternyata disana ada pelacur. Saya heran, bagaimana mungkin di Mekkah yang suci ada pelacur.” Lalu apa jawab Buya Hamka? Dengan kalemnya ia berkata, “Saya pernah beberapa kali berkunjung ke California. Tetapi disana saya tidak menemui satu pelacur pun”. Dalam percakapan ini mengajarkan bahwa seseorang hanya akan menemui apa yang ia cari. Bahkan ketika di kota suci ketika ia mencari sesuatu yang tercela maka ia akan mendapatkannya.

Seorang sahabat pernah menuliskan di dalam notesnya bahwa di dalam pergaulan terkadang kita tidak bisa memilah-milah mana yang baik dan yang buruk. Karena ketika bermuamalah antara satu dengan yang lainnya pasti akan dihadapkan oleh pemikiran yang berbeda. Dan Islam juga tidak mengajarkan pemeluknya untuk menjadi rahib. Menyepi di puncak gunung dan merasa sholeh sendirian. Islam adaha sebuah rahmat bagi alam, maka ia bukanlah sebuah kesholehan yang dimiliki sendirian.

Maka sahabat saya menuliskan bahwa cara menghindarinya bukanlah dengan menjauhi serta menyepi sendirian. Apa yang perlu dilakukan hanyalah membangun imunitas terhadap penyimpangan-penyimpangan itu. Bagaimana membentengi serta mempertahankan diri terhadap penyimpangan yang ada. Jika diibaratkan bahwa ikan yang hidup di laut rasanya tetap tawar meski ia hidup di lingkungan dengan kadar garam yang tinggi. Namun ketika ia mati lantas diasinkan, maka rasanya asin meski ia diasinkan dengan kadar garam yang sama ketika ia hidup di lautan.

Mungkin memang memerlukan proses yang panjang serta lama untuk membangun kekebalan serta imunitas terhadap penyimpangan yang ada. Yang pasti, proses itu membutuhkan hati yang hidup serta bugar dan sehat!

Semoga Alloh memudahkan dan memampukan…

Noura

Ayat-ayat cinta. Novel yang terbit pada tahun 2004 ini mengingatkan saya akan kenangan pada banyak hal. Tentu kenangan-kenangan manis. Ketika membaca perjuangan Fahri dalam masa perantauannya. Bagaimana ia bersikap dan bertindak dengan penuh tanggung jawab, bagaimana tentang pergaulannya, bagaimana tentang aktivitasnya. Sangat menginspirasi saya. Meski jujur, kualitas saya juaaaaaauuuuuuuuuuuh dibandingkan dengan tokoh Fahri.

Tapi novel ini tetap membekas di dalam kenangan akan bagaimana saya harus bersikap serta bertindak melalui kisah fiksi Fahri. Hampir semua tokoh yang diceritakan di sini adalah orang-orang yang baik. Bagaimana tentang Fahri, tentang tetangganya Mr. Boutros, tentang Syaikh Usman, tentang Fadhil daaaaan lain-lain.

Banyak kisah yang menyentuh di dalam novel ini. Tentang Fahri mengenai pilihan-pilihan yang harus ia ambil serta cobaan yang menimpa, tentang Nurul yang kisah kasihnya tidak sampai, tentang Fadhil yang mengajarkan tentang bagaimana menjadi seorang lelaki sejati dan tak lupa… Tentang Noura..

Noura adalah gadis mesir yang cantik, pandai namun memiliki nasib yang malang. Ia dibesarkan di dalam keluarga yang tidak harmonis. Ayahnya si Bahadur yang pemarah serta ringan tangan, kakak-kakaknya yang menyiksanya, sert aibu yang tak berdaya atas keadaan Noura. Namun ia tetap tabah, ia tetap bersabar menerima segala cobaan itu.

Hingga pada suatu ketika, saat ayahnya bertindak melampaui batas serta mengusirnya dari rumah. Datanglah Maria yang menolong serta menghiburnya atas perintah Fahri. Siapa yang tidak tersentuh hatinya ketika mendapatkan pertolongan seperti itu. Ketika saat yang paling nadir di dalam hidup, lantas ada seseorang yang menolong, maka ingatan akan kebaikannya tak akan terlupakan.

Singkat cerita, Noura jatuh cinta. Ia jatuh cinta kepada Fahri sebagaimana Maria serta Nurul. Namun sayang, cinta Fahri telah terikat dengan sah bersama Aisha. Maka bertepuk sebelah tanganlah cinta Noura, Maria serta Nurul.

Nasib yang sama ternyata tidak membuahkan tindakan yang berbeda. Maria menahan rasa cintanya sampai ia jatuh sakit dan sekarat, Nurul yang mengiba menawarkan diri menjadi madu asal mendapatkan cinta Fahri dan kisah tragis Noura yang merubah perasaan cinta menjadi benci.

Maria. Sangat wajar ketika merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan lantas merasai perihnya. Maka sangat wajar ketika ia jatuh sakit karena memendam rasa itu. Untung tidak semengenaskan kisah Layla-Majnun.

Nurul. Ia menawarkan diri, dan kondisi itu boleh karena ia menawarkan melalui jalan pernikahan. Bukan melalui jalan yang melenceng dari syariat. Namun akad antara Fahri dan Aisha tidak mengijinkan cintanya bersambut.

Noura. Cinta yang mendarah daging serta menyunsum tulang membuatnya kehilangan akal sehat hingga merubahnya menjadi kebencian. Kebencian yang menyakiti yang dicintai.

Ketika membaca kisah itu, saya sempat terpikirkan; “Apakah mungkin sebuah cinta dapat berubah menjadi kebencian?”. Memang, kisah itu fiksi. Namun tidak menutupi bahwa fiksi dapat didasarkan pada kejadian nyata bukan?

Lantas di dalam penggalan sebuah ayat Al-Qur’an;

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

Ternyata di dalam Al-Qur’an ada kisahnya..

Jadi memang ada sebuah pelajaran, bahwa sebuah perasaan cinta yang salah dapat mengubah rasa itu menjadi kebencian. Mungkin bukan cintanya yang salah, karena ia adalah fitrah yang mendasar. Sangat wajar ketika mencinta, namun tindakan apa yang dilakukan atas dasar cinta itulah yang kemungkinan melencengnya sangat besar.

Maria hanya mampu memendamnya dengan dalam hingga ia jatuh sakit, Nurul dengan penuh keberanian mengungkapkan rasa cintanya serta menawarkan diri, namun Noura mengubah rasa cinta itu menjadi kebencian yang dalam.