LTAM (Let’s Talk About Marriage) #1

Pagi ini saya terbangun dengan terburu-buru. Berangkat juga dengan terburu-buru pula. Dikejar waktu tapi untung tidak dikejar penagih utang. Utang janji juga utang budi. Entah kenapa kebiasaan tidur sehabis subuh susah hilang. Mungkin bergantung dengan amal perbuatan.

Berangkat terburu-buru pula. Berjibaku dengan waktu demi sampai di kantor jam 7.30 kurang. Maklum, sekali terlambat potongan gajinya cukup untuk makan sehari lebih dikit. Meski keterburuan ini tidak diimbangi dengan status saya yang belum mandi dan masih bujangan.

Sedikit dimaklumi, sebab kalau berangkat dengan sepeda, mandi dari rumah-pun percuma. Meski alasan sebenarnya kalau mandi di rumah tidak sempat mengejar absensi. Mumpung di kantor serasa rumah kesekian dengan adanya peralatan mandi yang kumplit.

Lantas sesampainya di kantor, saya tak buru-buru langsung mandi. Untung, meski bangun mepet dari jadwal. Entah kenapa saya termasuk orang yang paling awal datang ke kantor pagi itu. Mungkin efek dari “I Hate Monday”nya para pekerja. Sehabis enak-enak liburan santai (santai??? tau ga?? ada beberapa orang yang justru sibuk di hari “santai” itu….), eh tau-tau besoknya disuruh masuk kerja lagi.

Eniwey, saya justru tertahan mengobrol dengan seorang sahabat. Entah kenapa dari dulu fokus memang bukan termasuk keahlian saya. Niatnya mandi malah ngobrol dengan seorang sahabat. Maklum, suasana kantor yang sepi ketika pagi membuat saya sedikit pengen ngobrol buat meramaikan suasana.

Lantas apa hubungannya berangkat terburu-buru, sepedaan juga terburu-buru, mandi juga ga keburu yang saya ceritakan 6 paragraf diatas termasuk paragraf ini dengan LTAM (Let’s Talk about Marriage)???

Ga ada.

Hanya basa-basi yang mungkin belum basi saja. (jika ditambah dengan tulisan ini, sudah termasuk 8 paragraf yang tidak berarti apa-apa… Basi…) Pas banget status sahabat saya ini juga termasuk kelompok “Bujang yang belum lapuk” seperti saya. Maka tak heran topik materi yang kami obrolkan tak jauh-jauh dari yang namanya “merit”. Tsaah… Sebut saja; nikah.

Dari saling kompor-mengompori sesama sahabat. Akhirnya saya tahu kalau pada bulan sekian tahun sekian nanti, insyaAlloh ia akan melangsungkan sebuah prestasi puncak bagi seorang bujangan yang dinantikan selama hidupnya sedari status yang diakui ketika membuat KTP di kantor kecamatan yang menuliskan statusnya resmi dan diakui oleh negara dengan mencantumkan status yang membuat terhenyak bagi seorang bujangan di umur yang sekian dengan sebuah kata sederhana yang menggambarkan banyak persepsi dari pembacanya: BUJANGAN.

Yap, insya Alloh ia akan menikah di bulan sekian dan tahun sekian.

Lantas saya bertanya-tanya; “Apa yang mendorong kemantapan ia untuk menikah?”

Untungnya tidak dijawab; “Elu kaga normal yah Nung? Masa’ bujangan ga mau nikah sih?”.

Jadi teringat dengan perkataan imam Syafi’i; “Seorang bujang apabila tidak menikah maka baginya ada dua hal; ia banyak maksiat atau diragukan kelelakiannya”, ketika saya membayangkan dialog imajinatif ini.

Tsaaah…

Lantas ia membeberkan bagaimana proses menuju pernikahannya. Yang ternyata jarak waktu untuk mengenal akhwat idamannya itu hanya berbilang 2-3 bulan. Kemudian langsung dengan jantan ia berani melamar sang akhwat. Pada awalnya saya heran. Well, jika beliau ini cowok “ngaji” yang tiap pekan sering ngumpul-ngumpul bareng entah di mesjid ato di mana kek untuk nge-charge ruhiyah pekanan, mungkin hal itu wajar banget. Lha wong ada kenalan yang cuma kenal seminggu dua minggu ama calonnya langsung berubah status seketika itu juga kok.

Tapi ia ini nggak “ngaji”, tapi memang paham tentang agama. Maka ia tahu tentang mudharatnya pacaran. Ga usah dibahas deh tentang pacaran. Ga ada tuntunannya dalam Islam. Titik.

Maka dengan penuh kemantapan ia ngasih tahu bagaimana “perjuangannya” untuk meluluhkan sang akhwat idaman. Yang ketika itu ia kenal dari pandangan pertama ketika ada pameran komputer di kota kecil kami ini.

Tapi please, jangan digeneralisir kalo nyari jodoh itu bisa lewat pemeran komputer atau minimal lewat islamic book fair. Jangan digeneralisir kalau bagian ini.

Ketika itu, pas menatap sang akhwat. Ia langsung merasa “cesss” gitu. Cocok bin klop. Apakah ini termasuk cinta dipandangan pertama yang diikuti pandangan kedua, ketiga dan seterusnya?

Wallahu a’lam…

Dan ketika itu entah kenapa seolah-olah perjalanan untuk mengenal akhwat itu menjadi lancar ketika ada seorang kawannya yang kenal dengan akhwat itu. Singkat cerita kenalanlah —Saya malas bercerita panjang dan lebar hingga menjadi luas—.

Bertukar nomor hape dan langsung “ditembak” dengan komitmen menuju hubungan pernikahan.

“Pede aja Nung”, nasehatnya.

Wow… Ekspress sekali proses ketika itu.

Lantas saya jadi terpikirkan oleh salah satu nasehat dari seorang sahabat nun jauh di pulau seberang; “Jodoh itu bukan masalah soal bagaimana mengejar atau mengusahakan, tapi sudah digariskan”.

Bahasa simpelnya; Kalau sudah jodoh, entak dia itu nabrak becak, nyungsep di selokan, diteriakin maling sandal di mesjid, dikejar-kejar trantip karena dikira penjahat, dilemparin batu ama anak-anak kek ngelemparin orang gila, maka akan ketemu.

Kalo nggak jodoh, entah diusahain pake segala cara yaaa bakal ga ketemu harinya. Mungkin itulah sebuah persepsi tentang jodoh. Yang seringkali gara-gara roman picisan yang sering dibaca. Entah itu bentuknya novel atau komik, entah itu bentunya film atau sinetron. Seringkali menutupi kenyataan ini. Hingga pada akhirnya, jalan yang salah ditempuh. Dari yang sekedar lirik-lirikan mata sampai menuju hal yang menjerumuskan diri menuju kenistaan.

Mungkin…

Lantas apa yang seharusnya saya lakukan ketika ini hanyalah menata niat. Dan biarlah ketika niat ini lurus, takdir ke depan akan menemukannya…

Monday, December 20, 2010 at 8:57pm

 

**Tulisan ini dibuat ketika iseng-iseng saya mengobrol dengan salah seorang sahabat akrab di kantor.. Yang ujug-ujug tanpa ada angin maupun badai langsung mo ngadain pesta walimahan…

Well, sebenarnya udah terbiasa sih mendengar proses nikah kek gitu. Ketika komitmen terucap langsung nentuin tanggal berapa mo ngelamar dan tanggal berapa mo nikah.. tapi biasanya itu di komunitas anak ngaji… dan sahabat ini bukan anak liqo’an.. tapi juaaauh lebih berani dibandingkan anak-anak liqo’an (ane  maksudnya) yang lain…

3 responses to “LTAM (Let’s Talk About Marriage) #1

  1. Ping balik: Ending dari “Let’s Talk About Marriage part I” | belajar dari jalanan

  2. hmm.. curhat ikhwan bujang.😆
    sebenarnya yg bisa menuntun ikhwan untuk memulai langkah konkrit untuk menikah adalah : S.I.A.P

    • ha ha ha.. iya mbak..

      tulisan ini (dan seri-seri LTAM berikutnya) adalah “amunisi” untuk kesiapan saya itu mbak..

      kapan?

      he he.. tunggu Let’s Talk About Marriage jadi Let’s get Married..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s