#perjalanan; Sombong

Sombong. Ternyata saya adalah orang yang mudah merasa sombong. Entah dalam bentuk ke ge-er’an saya maupun dalam bentuk meremehkan sebuah hal. Disadari maupun tak disadari. Namun seringkali tak disadari.

Saya jadi ingat dengan topik ini ketika ngobrol dengan salah seorang sahabat yang tengah cuti dari kuliahnya di luar sana. Seorang sahabat yang merasakan efek sebuah kesombongan yang mempengaruhi hasil ujiannya.

Ujiannya sempat terpuruk karena secuil kesombongan dan kepercayaan diri yang berlebihan. Dan baru disadari setelah semuanya berlalu. Lantas saya sadar, ternyata di zona nyaman saya, saya termasuk orang yang mudah tinggi hati. Mudah meremehkan dan bahkan mengecilkan sesuatu.

Pribadi saya yang berada di zona nyaman sering membanggakan diri. Entah di saat saya berada di lingkungan kantor, lingkungan rumah bahkan ketika saya sedang menulis seperti ini. Mudah sekali sombong itu tumbuh begitu saja.

Dan ternyata saya pernah (pernah? Sering mungkin) merasakan efek buruk dari kesombongan saya. Berkali-kali.

Penilaian terhadap diri yang berlebihan, menganggap remeh suatu masalah, mengentengkan kemampuan orang lain dan berbagai macam bentuk kesombongan saya yang lainnya seringkali mempengaruhi cara pandang saya. Saya sering salah menilai sesuatu di kala saya sombong.

Entah berlebihan atau terlalu kekurangan. Dan akibatnya, penilaian saya terkadang jauh dibawah standar atau standarnya terlalu tinggi.

Entah sampai saat ini saya belum menemukan formula untuk penilaian standar itu. Tapi, saya hanya merasa jika saya sombong, seringkali kegagalan yang saya temui. Saya hanya baru menyadari sombong ini. Belum mampu mengendalikannya.

Tapi, di jalanan maupun di alam, rasa ini mengecil begitu saja. Ketika berada di kerumunan orang di terminal maupun stasiun atau bandara. Sering saya menemukan sebuah kenyataan bahwa saya hanya seorang yang berada di kerumunan orang. Tak kurang dan tak lebih.

Tak bisa saya sesumbar sambil membusungkan dada dan berkata; “Ini loh, saya Hanung!!”. Sesumbar saya di zona nyaman tak bisa tumbuh di jalanan.

Saya baru menyadari kenyataan ini ketika berada di jalanan. Ketika berada di tengah kerumunan penumpang. Kesadaran ini baru hadir.

Ternyata saya hanya seorang dari kumpulan orang saja.

Monday, January 3, 2011 at 7:26am

 

**Tulisan ini saya buat ketika hari itu. Sebuah perasaan tinggi hati tiba-tiba tumbuh begitu saja. Gue udah sampai di titik ini, begitulah tiba-tiba hati ini ngomong…

Astaghfirullah… Padahal kalau direnungi, langkahku ketika itu baru menginjak tangga terbawah dari segala proses di depan. Masih keciiiiil sekali langkah ini…

entah bakal berapa ratus atau ribu atau bahkan jutaan langkah nun jauh di depan..

Tak seharusnya saya menyombongkan diri… Mohon koreksinya jika nanti saya menyombongkan diri (lagi)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s