#Perjalanan; Titik Nol

Perjalanan. Bagi salah satu “guru” online saya adalah sebuah aktivitas laki-laki. Perjalanan erat hubungannya dengan laki-laki. Sama pendapat umum dengan memasak yang identik dengan perempuan. Meski sekarang ini tak semuanya langsung bisa dihubungkan secara linier lagi. Mungkin pendapat umum ini memang berasal dari kebiasaan para lelaki yang terlihat di aktivitas petualangan dibandingkan dengan perempuan. Baik di kenyataan maupun di dalam kisah-kisah yang ada.

Maklumlah, aktivitas perjalanan ini identik dengan petualangan. Dan petualangan cenderung bersifat maskulin. Beradrenalin dan menantang.

Tapi salah apabila ada laki-laki yang cenderung lebih suka berdiam diri di rumah lantas diragukan kelelakiannya. Salah. Perjalanan, petualangan, avonturir tak bisa dihubungkan dengan kelelakian seorang laki-laki. Beberapa hal itu hanya secuil saja dari bagian laki-laki. Hanya pendapat umum yang tak bisa dipukul rata dengan berbagai kondisi yang ada.

Cukuplah laki-laki menjadi seorang lelaki ketika ia mampu bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Tambahan lagi deh kalo dia udah berkeluarga, ia juga mampu bertanggung jawab atas keluarganya.

Yah yang namanya kegemaran atau kecenderungan tak bisa dibandingkan secara apple to apple dengan karakter. Kegemaran dan kecenderungan tiap orang berbeda-beda.

Eniwey buswey.. Cukup deh mbahas laki-laki dengan perjalanan. Bukan ini yang pengen saya tulis. Hanya intermezo saja.

Kegemaran berjalan-jalan ini entah mulai tumbuh sejak kapan. Seingat saya sejak kecil saya termasuk orang rumahan yang sedikit menyukai aktivitas berkemah setelah kenal dengan pramuka di kelas 4. Kesan saya tentang kegiatan ini; “ini cowok banget!”

Lalu seiring dengan berjalannya waktu, saya kegiatan pramuka berganti dengan pecinta alam. Amatiran sih. Hanya ikut-ikutan saja waktu itu. Meski sedikit banyak, saya memang menikmati aktivitas ini.

Pada awalnya, saya menganggap hobi keluyuran ini hanya sekedar pembunuh waktu luang.

Saya jadi ingat dengan semboyan waktu naik gunung yang digembar-gemborkan dulu oleh para pendaki yang mengaku sebagai pecinta alam (tapi kok banyakan ngibulnya yah??). Begini bunyinya;

1. Jangan meninggalkan sesuatu kecuali meninggalkan jejak

2. Jangan mengambil sesuatu kecuali mengambil gambar

3. Jangan membunuh sesuatu kecuali membunuh waktu

Tiga nasehat yang harus kami penuhi ketika itu. Namun kok saat itu saya lihat gunung masih terlihat kotor oleh jejak bekas bungkus makanan maupun jejak vandalisme. Namun kok banyak pohon yang terbunuh juga. Namun kok banyak beberapa hal yang terambil selain hanya gambar.

Entahlah..

Tapi yang saya rasakan saat ini, ternyata di jalanan saya banyak mendapatkan banyak hal. Dari ilmu, teman, saudara dan bahkan rezeki.

Surprise sekali dengan beberapa hal ini. Yang saya anggap sepele karena sekedar menyalurkan hobi dan kegemaran, ternyata mengajarkan banyak hal bagi saya.

Jujur, saya bukan orang yang gemar berteori. Pusing kalau mendengarkan penjelasan dosen maupun pengajar. Ga betah.

Bagi saya saat itu kok ilmu itu yang membumi banget. Terlalu mengawang-awang lah. Meski mohon maaf, tentu pendapat saya ini ada benar maupun ada salahnya. Karena teori adalah sebuah persiapan dan perbekalan tentunya.

Mungkin karena hal itulah saya memakai nickname streetlearner. Awalnya sih buat nunjukin eksistensi diri “ini lho, gue petualang”. Tapi kok lama-lama saya menyadari bahwa nickname ini terlalu berat bagi saya.

Ah, kesombongan masa muda memang parah.

Sudahlah.. Yang berlalu sudah berlalu, dan nickname yang berat ini sudah kadung melekat. Yang saya rasa, bagi saya yang amatiran ini tidak bisa diidentikkan dengan nickname itu.

Yah, saya bukan petualang yang gemar menantang alam. Saya bukan pendaki yang bertujuan menaklukkan gunung yang tinggi. Saya buka pejalan yang tahan terhadap segala perubahan kondisi. Saya bukanlah orang yang kuat dalam fisik maupun mental.

Hanya hanyalah penikmat perjalanan saja. Saya hanya suka jalan-jalan ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Itu saja. Saya hanya menikmati perjalanan, meski terkadang ketika saya sampai tujuan, saya jauh menikmati objek yang dituju itu.

Dan terkadang, ketika dalam diamnya perjalanan, saya sering merenungkan dan memikirkan banyak hal. Yang ternyata banyak hikmah yang saya dapatkan. Meski hikmah-hikmah itu tidak bersifat final. Hanya kesimpulan atas pemahaman saya saat ini. Entah kedepan apakah saya memiliki pendapat yang sama ketika pemahaman saya berubah.

Namun ijinkan saya saat ini untuk memulai menuliskan kisah perjalanan dan hikmah yang saya dapatkan ketika di perjalanan itu.

Mohon maaf jika kesannya menggurui di tulisan yang memiliki judul #perjalanan di tiap judulnya. Mungkin ini adalah dialog antara diri saya dengan saya pribadi ketika yang satu berperan sebagai guru sedangkan yang lain berperan sebagai murid.

Nikmati tulisan yang bermula dari titik nol ini..

(Sunday, January 2, 2011 at 7:21pm)

 

**Tulisan ini saya buat di dalam notes facebook saya ketika saya di dalam perjalanan menuju Bandung awal tahun lalu (Sunday, January 2, 2011 at 7:21pm).. Ketika melamun menghadapi hari “esok”, saya berpikir bahwa ternyata saya ga punya guratan-guratan perenungan saya.. Bisa dibilang banyak prinsip-prinsip yang saya pelajari tidak saya tuliskan…

padahal saya itu pelupa…

Yaah… mungkin ini adalah tulisan-tulisan tentang perenungan saya di dalam kesendirian perjalanan…

4 responses to “#Perjalanan; Titik Nol

    • iya mas… masih ada beberapa yang mo di post dari notes yang tercecer tentang perjalanan ini…

      be te we, link blog ente tak tag yah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s