#perjalanan; Biaya Nekat

Ongkos alias biaya. Adalah salah satu hal yang penting di dalam perjalanan. Atau banyak yang berkata bahwa ongkos adalah faktor terpenting dalam sebuah perjalanan. Meski secara kenyataan, ongkos bukan hal yang terpenting.

Bayangkan jika faktor biaya adalah hal yang terpenting. Mungkin Gol A Gong tidak akan mengelilingi asia dan novel Balada Si Roy hanya melulu nyebutin kota Serang doang.

Maklum, beliau termasuk orang yang pas-pasan. Tidak sekaya orang-orang yang berduit. Namun ada satu faktor yang menggenjot ia untuk traveling. Dan saya mengaminkan satu faktor ini.

Keberanian.

Itu adalah modal yang paling pokok. Modal yang paling utama menurut saya saat ini. Tanpa ada keberanian, seseorang tidak akan berani keluar dari zona nyaman. Tidak berani mencoba hal-hal yang baru dan tidak berani menghadapi kenyataan di depan mata.

Tapi jujur. Sebenarnya saya termasuk orang yang cenderung paranoid. Saya bukan orang yang berani. Saya tidak “sejantan” traveller lainnya. Saya hanya sedikit mengandalkan spontanitas yang terkadang bikin hati saya bergidik ngeri ketika menghadapi kenyataan yang ada di jalan.

Orang-orang menyebutnya; Nekat.

Dan nekat bukan termasuk keberanian. Ia hanya faktor kecil dari lingkup keberanian. Orang yang berani bisa jadi juga nekat, tapi orang yang nekat belum tentu berani.

Tapi saya menyadari sebuah hal. Dari kenekadan bisa tumbuh keberanian. Kata yang tepat bukan tumbuh, tapi dipaksa tumbuh. Tumbuh yang terpaksa. Tapi jauh lebih mending bukan daripada tidak tumbuh sama sekali.

Well, memang jujur saja. Saat ini saya termasuk golongan orang nekat yang terpaksa menumbuhkan keberanian. Maklum, terkadang sesuatu itu perlu dipaksa agar tumbuh. Termasuk kenekatan juga sih.

Kalau saya pribadi, kenekatan ini muncul dari sebuah spontanitas. Spontan bertindak, baru berpikir. Nekat bukan? Suka maksa yah saya..

Ada yang menganggap hal itu adalah sebuah hal yang ngawur. Sedikit ada benarnya juga sih. Tapi hal itu bisa dikatakan ngawur 100% jika kenakatan itu tidak diikuti oleh keberanian yang tumbuh. Saya yakin setiap keberanian pasti tumbuh dalam kenekatan ini. Cuma, hal itu disadari atau tidak.

Karena jika sudah berada di lapangan, ternyata saya lihat kok jauh beda dengan teori yang ada. Ada banyak hal dan banyak faktor yang tidak linier ternyata. Ada pola melompat-lompat yang harus saya ikuti alirannya. Sebab terkadang saya tidak mampu melawan arusnya. Well, butuh adaptasi yang terkadang sedikit makan hati. Tapi itulah konsekwensinya.

Sebab, dalam sebuah perjalanan pasti ada resikonya. Entah besar entah kecil. Tapi resiko bisa di perkirakan dan dimaklumi (ada yang bilang bisa diatur resiko itu, tapi saya menyebutnya dimaklumi. Diterima).

Yah, padahal entah di rumah entah di jalan masing-masing ada resikonya. Tinggal besar kecilnya saja.

Tapi hidup adalah pilihan (dan penerimaan) bukan?

 

Tuesday, January 4, 2011 at 8:16am

 

**Tulisan ini dibuat ketika saya menunggu di dalam bandara Soetta.. Menunggu pesawat buat nerbangin saya balik lagi ke Banda Aceh.. Nekat ketika itu..

Maklum, ketika itu PP 53 yang mengatur tata tertib pegawai untuk pertama kalinya akan berlaku.. Tapi saya nekat bolos..😀

Yaaah.. memaknai tentang kenekatan.. akhirnya lahirlah tulisan ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s