Berpuisi

Salah satu karya sastra yang saya sulit pahami adalah puisi.

Kenapa? Dalam persepsi saya, puisi adalah perwujudan dari romantisme jiwa. Hanya orang-orang yang melankolis dan romantis yang mampu membuat puisi. Dan sialnya mungkin saya termasuk dalam ketegori yang realis. Jika disederhanakan, saya cenderung termasuk orang yang apa adanya dan bahkan seadanya.

Simpel dan terkesan tidak mau repot. Jika disederhanakan, saya termasuk malas.

Hedeh… Apa saya sendiri yah yang terlalu simpel dan cuek bebek?

#lah, kok jadi curcol?

Ketika teman membaca “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”nya Taufik Ismail, saya cuma bisa manggut-manggut. Saya tahu itu karya yang sangat luar biasa. Bagus dan sangat keren! Tapi yaaa itu.. Ketika di ranah ini saya sadar, mungkin saya cuma sebagai penikmat saja.

Pun begitu ketika saya membali buku “Aku”nya Chairil Anwar yang nongol di dalam film “Ada Apa Dengan Cinta”. Setengah jam baca, langsung khatam. Dan saya cuma bisa manggut-manggut doang. Setelah itu dilempar dan lanjut dengan buku baru yang bisa saya pahami.

Padahal jika disebut realis, tidak juga kok. Saya suka dengan novel, saya suka dengan cerpen, saya suka dengan opini. Tapi saya lebih menyukai dengan sebuah cerita yang ujungnya tentang keseharian. Dan ketika berbicara dengan keseharian, saya bingung dengan apa yang bisa diromantiskan dengan keseharian itu.

Mungkin persepsi saya yang salah yah kali’. Menganggap puisi hanyalah milik jiwa-jiwa yang sedang dirudung cinta maupun duka lara.

Padahal sastra milik semua. Semuanya bisa dituangkan dalam sastra. Dituangkan dalam bentuk seni. Dan berbicara seni, setiap orang sebenarnya dikaruniai jiwa-jiwa seni. Cuma mungkin potensi itu keluar tidak hanya dalam bentuk kata dan tulisan. Ada ranah-ranah lain dalam pengejawantahan seni.

Bisa dalam bentuk lagu, syair, bahkan dalam hal bentuk fisik semacam kombinasi warna cat tembok dan sebagainya. Atau jika disebut keren, bualan-pun termasuk seni. Seni merayu dan menggombali.

Kembali ke soal puisi.

Jika dibilang tidak suka puisi, apa yang saya lakukan merupakan kontradiksi. Lha wong ringtone di handphone saya puisi kok.

Sampai-sampai karena seringnya saya menerima panggilan dengan ringtone itu, saya dianggap punya pacar. Lha gimana, ringtone saya puisi yang isinya cukup romantis. Dan saya set buat semua panggilan memakai ringtone itu. Hanya beberapa saja yang punya ringtone khusus, dan itu pun bukan  puisi. Ada nasyid buat kelompok liqo’an, ada instrumentalia buat orang-orang penting di rumah…

Hanya saja belum ada yang menghuni “Kupinang Engkau Dengan Al-Qur’an” saja di ringtone spesial ini. (Tapi segera deh buru-buru dipasang say… :D)

Yang lain dari yang nomornya terdaftar sebagai klien kerja sampai panggilan tidak dikenal memiliki ringtone puisi ini.

Ah sudahlah… Mo menjelang subuh…

Oh ya! Ingin tahu apa “lirik” yang ada di puisi yang saya jadikan ringtone di handphone? Cukup Romantis lho… Ini dia;

 

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku.

 

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

 

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.

 

(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi

kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara

ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

 

apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta

 

(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram

wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

dalam bahasa yang tidak kita mengerti

seperti kabut pagi itu)

 

manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan

dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

 

 

4 responses to “Berpuisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s