LTAM #3; Kenapa Harus Pacaran?

Let’s Talk About Marriage #3

“Nung mana profil pacar Hanung?”, tanya seorang rekan kerja ketika saya membuka halaman muka facebook. (ini muka ketemu ama muka….)

Dan saya nyengir dengan lebarnya.

Maklum, saya bujangan, ganteng (jujur, cowok memang ganteng bukan? kalo cowok dibilang cantik, itu tanda ga normal) dan sudah berma’isyah alias berpenghasilan. Yaaah meski jauh dari tanah kelahiran dan keluarga di seberang pulau sana, tidak menutupi bahwa saya sudah lumayan mampu.

Setidaknya jika dibandingkan dengan beberapa orang yang saat ini masih kuliah atau bahkan masih SMA atau yang lebih cupu lagi kalau ia masih SMP kalau diimajinasikan di balik punggungnya ada tulisan; “Awas anjing galak!! sudah ada yang punya”.

**Saya saat ini mungkin bisa diketawain anak SMP-SMA-Kuliahan diatas itu; “Kasian deh loooo maaaas, ga punya pacaaar…..”

Tapi saya tidak pacaran. Juga bahkan tidak punya pacar.

Well, dunia saat ini memang aneh. Hal yang seharusnya tidak wajar menjadi wajar dan hal yang seharusnya wajar menjadi tidak wajar.

Wajar bukan jika saya tidak pacaran?

**Lagi-lagi anak SMP-SMA-kuliahan diatas pada ketawa; “Aneh….”

Lupakan status saya yang pernah nyambi jadi anak ngaji di masa kuliah. Lupakan! Karena banyak pula yang disadari atau tidak, banyak aktivis (dulunya dan sekarang masih jadi) ternyata banyak yang terperosok di dalam ketidakwajaran yang menjadi wajar ini. Status masa lalu bukanlah cerminan di masa depan!

Saya tidak akan berbicara tentang dosa dan sebagainya. Sudah ada yang sangat-sangat-sangat berkompeten dalam membahas itu. Dan kompetensi saya bukan di bidang itu.

Jadi…. Kenapa harus pacaran?

Well, saya tidak tahu apa jawabnya…

Yang jelas, ada beberapa pertanyaan yang harus diajukan kepada diri pribadi saya dan tentunya pembaca notes ini.

“Sudahkah saya siap untuk bertanggung jawab?”

Please… Jawab dengan jujur.

“Terus bagaimana bentuk pertanggung jawaban saya itu?”

Please… Pertanyaan ini bukan hanya kudu dijawab. Tapi HARUS dibuktikan!

Bagi saya sendiri pacaran yang digadang-gadangkan di zaman sekarang ini adalah suatu bentuk kelepasan tanggung jawab bagi laki-laki. Ia hanyalah kenikmatan yang berlepas diri dari sebuah tanggung jawab yang besar. Dari fakta yang ada, kebanyakan bentuk pacaran zaman sekarang adalah bentuk kesenangan sesaat yang kudu dimanfaatkan selagi masih muda. Prinsipnya; “gue happy dan elo juga happy”.

Saling sapa lewat telepon (zaman saya SMA ga punya hape… jadi kalo mo nelepon “temen” kudu lewat wartel… :D), janjian jemputan di mana gitu, janjian traktir-traktiran daaaaaan berbagai bentuk kesenangan dan kenikmatan lainnya. (di pajak ini disebut natura… :D)

Ini adalah bentuk pacaran level “cupu”. Sedangkan level berikut-berikutnya pacaran cenderung mengarah ke perzinahan. Dari sekedar pegang-pegangan tangan, peluk-pelukan sampai urusan ranjang.

Saya sampai heran jika sudah bunting duluan. Mana akal sehat itu? Mana nurani yang harusnya bisa bilang bahwa hal itu salah? Kalo udah bunting, siapa yang nanggung? Kok mau-maunya pula si cewek diajak begituan? Dan cowok brengsek mana yang dikepalanya hanya urusan begituan?

Please… Buat kaum perempuan, hati-hati ama cowok model beginian. Hindari jauh-jauh serigala macam gini. Yang maunya enak doang, yang maunya gampangan doang…

Buat para cowok… Please… Jadilah cowok yang punya dikit tanggung jawab. Kalo belum mampu yaaa ga usah dipaksa. Kalo ada cowok yang bilang; “Tunggu gue seribu tahun lagi say…” Itu bullshit!! Kalo cinta, elu ga bakal ngerusak orang yang lo cintai!! Kalo cinta, elo ga bakal nggantungin nasib cewek dengan ketidakpastian!! Kalo cinta, elo bakal tanggung jawab ama perasaan elo!!

Buat yang pernah dan sekarang-pun masih jadi aktivis.. Aktivis Islam lagi! Please… Mari jaga idealisme yang pernah diukir dan dipahat di dalam hati.

Please… jatuh cinta itu wajar…

Wajar sekali…

Bukan untuk dihindari…

Tapi jika memang cinta itu belum saatnya… Mungkin itulah sebuah ujian dari Alloh tentang komitmen yang terukir dan terpahat di dalam hati. Banyak komitmen.

Banyak.

Komitmen tentang keluarga Islami, tentang masyarakat Islami dan tentang peradaban Islami. Bukannya hal itu harus dimulai dari diri sendiri?

##epilog## Dalam hal ini saya tidak merasa suci. Bahkan jika Alloh membuka aib saya sendiri, niscaya banyak hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan maupun saya kerjakan.

Ini adalah sebuah muhasabah bagi “kita” yang mengaku sebagai aktivis atau kita yang sempat mengecap indahnya ukhuwah di masa kuliah kampus maupun masa sekarang. Bahwa memang tak mudah mengatur kecenderungan hati.

Tak mudah memang.

Tapi setidaknya, saat ini dimulai dari diri sendiri untuk mengatur kembali komitmen yang mungkin sempat melenceng dari jalurnya yang benar.

Jikapun belum pernah melenceng, berbahagialah! Alloh telah menjaga diri anda dari banyaknya mudharat di zaman ini.

Namun jikalau saat ini atau dulu pernah melenceng. Ingatlah dengan sebuah Qudsi; “Jika hamba-Ku mendekat sedepa, Aku mendekatinya sehasta. Jika hamba-Ku menghampiri dengan berlari, maka Aku akan menghampirinya sambil berlari”…

Sungguh, jika diri mampu memacu untuk berubah. Maka Alloh akan memberikan jalannya. InsyaAlloh selama diri sendiri mampu untuk memacu mendekat kepadaNya. Semoga Alloh selalu memberikan segala kemudahan untuk memacu diri agar terus menerus memperbaiki diri…

Tuesday, January 18, 2011 at 9:44pm

 

**Tulisan ini tercipta ketika ada salah seorang rekan kerja yang nanya-nanya tentang pacar pas saya membuka facebook di kantor pas pagi hari menjelang sarapan. Terpikirkan juga beberapa kejadian yang berlalu dan telah lalu di masa lalu. Terbayang beberapa curhat para sahabat tentang masalah ini.

Ternyata memang di masa kini dan dengan posisi yang berbeda ketika masa kuliah, memang beda tantangannya. Beda kondisi dan situasi.

Ketika masa kuliah terkondisikan dengan situasi anak ngaji yang sering nongkrong di MBM dihadapkan dengan kondisi masa kini yang sangat majemuk seringkali ada kesenjangan antara teori dan realita.

Memang tak semua alumni aktivis kampus mengalami masalah ini. Tapi realita yang ada beberapa mengalaminya.

Mungkin ini sebagai sebuah muhasabah bagi diri saya pribadi agar selalu menjaga komitmen untuk memberikannya kepada orang yang berhak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s