Moll

“Hah, pake sandal?!?!”, begitulah ekspresi kekagetan ibu ketika melihat *kostum* anaknya yang aneh. Dari penampakan atas kelihatan rapi — well, ini pendapat objektif (objektif?? :D) saya pribadi sendiri yang menurut saya sudah rapi dibandingkan dengan hari-hari yang lain — sedangkan ketika melihat kaki saya masih terbungkus sandal gunung yang biasa saya pakai.

Langsunglah segala “wejangan” mampir di telinga saya.. Ha ha ha.. Ga perlu saya ceritakan panjang lebar-lah gimana ekspresi rasa sayang ibu dalam bentuk omelan itu..😀

Lantas, saya hanya berargumen tentang kekonyolan salah seorang sahabat yang ketika itu tengah menghadiri resepsi pernikahan kawan kami. Tentang kostum nyleneh teman-teman yang “unik”. Soalnya ketika acara resepsi itu, tak ada kawan kami yang memakai busana resmi. Semuanya “gaul” alias mengenakan pakaian “asal nyaman”nya anak muda.

Atasan make kaos, bawahan jeans sedangkan kaki mengenakan sandal. Nyaman dan praktis khas anak kuliahan.

Dan tibalah saat konyol itu. Salah seorang sahabat saya yang mengenakan kostum asal nyaman itu tiba-tiba menyeret kakinya katika menuju atas panggung untuk berfoto bersama. Meringis sahabat itu. Dan ketika kami sadar tentang apa yang terjadi, meledaklah tawa kami.

Apa yang terjadi?

Ternyata sandal jepit yang dikenakan sahabat saya itu putus ketika di tengah perjalanan menuju panggung. Mau mundur ga bisa karena sudah kadung berapa langkah lagi menuju panggung pengantin, mau maju juga sensi dengan kejadian naas itu.

Maju kena, mundur kena. Seperti pak esbeye saat ini..😀

Tapi tetap saja ibu ga bisa menerima. Maklum, anak mudanya ini memang kurang tanggap dengan situasi.

Yaah, salah saya juga sih. Lebih mempertimbangan kenyamanan saya sendiri dibandingkan dengan orang lain. Well, setidaknya ketika saya rapi, bisa membuat senang orang yang memandang bukan? Dan membuat senang orang lain berarti pahala bagi saya juga.

Eniwey busway bambang bombai siomay.. Jadilah saya pergi ke mall (baca moll, dengan memonyongkan bibir membentuk lingkaran “O” dan logat kebritish-british’an yang ber cengkok aneh) malam harinya. Sekedar buat survei harga dan menikmati malam-malam rame yang terlewatkan ketika saya berada di aceh.

Maklum, tempat yang saya tinggali dekat dengan area kuburan massal korban tsunami dan di sekeliling rumah dinas itu terdapat rawa-rawa yang jadi tempat tinggal beberapa binatang melata semacam biawak dan beberapa sodaranya. Bayangkan suasana “creepy”nya di malam hari. Apalagi dibumbui dengan deru angin pantai ketika pagi.. Brrr..

Tapi saya suka dengan suasana itu. Tenang.

Di mall yang penuh gemerlap dengan cahaya lampu warna warni itu, berisiknya musik yang mengalun di panggung di tengah pusat mall itu. Pandangan saya tertohok kepada para ibu yang tengah menikmati refleksi kaki dengan alat makanik.

Cukup 5 ribu rupiah doang untuk menikmati layanan kesehatan itu. Setelah berjam-jam menikmati window shopping di mall itu tentunya bikin kaki pegal. Setara dengan mengayuh sepeda sekian kilo kalo di dalam iklan pocari sweat.

Kaki yang pegal mengingatkan saya kepada sebuah kisah.

Tentang Sang Nabi yang kakinya bengkak karena semalaman sholat.

“Apakah tak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur?”, begitulah kalimat yang keluar dari lelaki mulia itu.

Ah.. Kok terasa syurga masih teramat -amat sangat- jauh ya??

 

January 30, 2011 at 10:16pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s