#perjalanan; Bangku no. 13

Coba ketika check in di bandara kemudian anda berkata kepada petugas di hadapan; “Mbak, boleh ga saya duduk di bangku nomor 13?”.

Coba lihat reaksi dari petugas itu.

Yang jelas, reaksinya bisa bermacam-macam. Untuk petugas yang sopan dan tahu bagaimana menempatkan diri, mungkin hanya sekedar dihadapi dengan senyum ramah mengembang serta berkata; “Maaf, bangku nomor itu tidak ada”

Meski mungkin nanti ketika dia sedang makan siang bersama rekan-rekannya ia menceritakan permintaan anda dengan guyonan. Maklum, memang permintaan yang aneh.

Bangku nomor 13 yang tidak ada. Begitulah sebuah hal yang unik yang sering saya temui di beberapa maskapai penerbangan. Dari beberapa maskapai yang saya coba, bangku ini tidak ada. Jadi langsung lompat dari bangku nomor 12 ke 14.

Imajinasi saya bergerak liar ketika membayangkan bangku ini sebenarnya ada, namun tak nampak seperti peron 9 3/4 di dalam novel Harry Potter. Karena hal ini unik.

Mungkin hal ini dipengaruhi oleh tahayul bahwa angka 13 adalah angka sial. Jauh-jauh deh dari sesuatu yang sial. Lantas, saya jadi terpikir tentang beberapa angka sial lainnya. Misalnya di Jepang yang menyebutkan bahwa angka 4 dan 9 adalah angka sial. Apa maskapai di Jepang tidak mencantumkan pula nomor bangku 4 dan 9 ya?

Saya hanya berharap pertanyaan ini segera terjawab ketika saya berhasil mendapatkan beasiswa ke Jepang kelak.

Amiin.

Bagi saya penghilangan nomor bangku 13 di sebuah maskapai udara ini sangat aneh. Kalau di dalam bis atau kereta apa, fenomena ini tidak ada. Malah di becak bangku nomor 13 tidak ada juga.

Tapi khan becak hanya ada satu bangku untuk 2 orang saja..

Maskapai udara, bagi saya pribadi adalah sebuah perwujudan modernisasi dalam sarana transportasi. Hanya sedikit yang pernah mencoba sarana ini. Dan hanya sedikit yang pernah mencoba lintas antar negara.

Tapi setelah melihat dengan mata kepala saya sendiri. Realitas modernisasi ini berganti dengan sebuah keudikan masyarakat yang mengaku modern. Ada hal-hal culun ternyata yang masih melekat di masyarakat yang mengaku telah maju ini.

Masa’ hanya karena sebuah tahayul yang belum teruji kebenarannya pendapat ini ditelan mentah-mentah. Kalaupun ada realita yang terjadi, berapa persen kejadian ini apabila dihubungkan antara kesialan dengan keberuntungan yang ada. Memang butuh penelitian yang panjang..

Lantas, jika dihubungkan dengan kacamata agama. Hal ini mungkin bisa dikatakan termasuk perbuatan syirik. Menyekutukan Alloh.

Lha gimana? MenyekutukanNya dengan menganggap bahwa sebuah angka dapat mempengaruhi sial atau beruntungnya dalam perjalanan.

Ini adalah hal-hal kecil di dalam perjalanan yang memiliki efek besar. Karena memiliki hubungan aqidah bagi setiap muslim.

Ada beberapa hal yang menjurus ke syirik yang pernah saya temui. Misalnya;

1. Mengucapkan “Assalaamu’alaikum” di sebuah tempat yang kelihatan kosong atau angker

2. Membunyikan klakson, mengedap-kedipkan lampu di sebuah jalan yang didesas-desuskan bermasalah.

3. Pantangan memakai pakaian dengan warna tertentu dan menyakininya bahwa hal itu akan berpengaruh terhadap keselamatan

Padahal, jika seseorang mengaku sebagai muslim yang benar. Seharusnya beberapa perkara itu psangat mudah dihindari. Cukup berlindung kepada Alloh dan tawakal kepadaNya dengan waspada terhadap segala mara bahaya yang menghadang.

Karena memang, segala keselamatan hanya ada jika berlindung kepada Alloh. Bagaimanapun bentuknya. Daripada ketika di dunia selamat, sedangkan di akherat babak belur nyungsep ke dalam neraka.

Bukannya visi kita adalah “Selamat di dunia dan akherat”?

Tuesday, January 4, 2011 at 12:38pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s