Seeing is Believing?

Terkadang saya merasa stuck dengan yang namanya ide. Berjejalan, namun ketika dituliskan mentok pada satu hal; Foto! Saya tidak punya gambar-gambar yang layak untuk dipajang. Dan jikapun punya, proses edit dan upload ke picasa, saya butuh sebuah entitas yang bernama waktu. Dan ketika berbicara tentang waktu, berkaitan dengan mood. Dan mood sangat berhubungan erat sekali dengan tulisan saya.

Ngeles yang pinter bukan?

Intinya mungkin satu hal; Saya Malas. Malas untuk berbagi apa yang nampak di mata saya melalui bukti otentik. Foto. Padahal ketika berbicara tentang perjalanan, yang sangat berpengaruh adalah bukti otentik dari perjalanan itu. Dokumentasi foto!

Well, saya sadar saya bukan fotografer. Modal saya hanya hape berkamera yang beresolusi 3,1 megapiksel doang. Itu-pun kalau malam hari digunakan, gambar yang nampak malah mirip penampakan makhluk halus. Dan seringkali karena asyiknya saya menikmati pemandangan yang ada membuat saya lupa diri untuk mengambil dokumentasi yang ada.

Alhasil, selama perjalanan yang ada, saya hanya memiliki oleh-oleh berupa tulisan saja. Gedabrusan saya inilah bentuk otentiknya. Kalau foto, he he.. Jangan tanya..

Tapi sepedaan malam ini jadi membuat saya berpikir. Berpikir gimana ngakalin untuk postingan blog saya ini. Setelah dipikir-pikir, ngasal banget saya bikin blog ini. Perpaduan warnanya datar, gambar jarang ada dan kebanyakan full tulisan doang.

Mungkin jika diibaratkan sebagai sebuah gedung, kok blog saya ini mirip kamar mayat yah. Rame sih tulisannya, cuman kok ga ada “nyawa”nya. Tapi setidaknya, tidak mirip kuburan. Bagi saya, kuburan adalah sebuah bentuk mati suri-nya sebuah blog. Sedangkan kamar mayat, sesuram apapun masih ada penjaganya.

Ah.. Back to topic.

Sepedaan malam ini begitu berkesan. Indah banget dengan suasana terang rembulan di malam hari. Apalagi berpadu dengan semilirnya angin pantai. Nyaman.

Dan saya ingin berbagi tentang kenyamanan yang saya rasakan ini. Melalui tulisan dan melalui gambar yang ada. Saya ingin berkata; “Banda Aceh itu kayak gini lho…”. Di ujung Indonesia tempatnya, tapi rame dan keren! Cuma sayang, saya ga ada fotonya! (dan malas upload fotonya)

Saya hanya bisa bercerita bahwa jam 11an malam sepedaan masih terlihat lazim disini. Menikmati sejuknya pantai. Menikmati kesendirian saya yang mengayuh sepeda, menikmati tenangnya suasana pantai. Nyaman sekali.

Padahal, jika saya berpikir mengandaikan diri sebagai pembaca blog saya. Saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri tentang perjalanan saya. Bukan hanya tulisan doang, tapi keindahan yang tidak bisa diuraikan oleh kata.

“Satu gambar, berjuta makna”

Mungkin itulah yang saya sadari. Satu gambar, namun pemaknaan tiap orang berbeda. Ketika saya melihat satu objek, saya akan memaknainya sesuai dengan kapasitas saya. Tidak menggurui. Saya membiarkan dengan bebas angan para penikmat gambar saya itu.

Sedangkan ketika saya bercerita melalui tulisan seperti ini. Saya hanya menggambarkan apa yang ada di dalam benak saya. Bukan benak pribadi masing-masing.

Padahal setiap diri memiliki sudut pandang yang berbeda. Saya malah merasa berdosa kesannya.

Ketika saya hanya mampu berbagi atas apa pemikiran di dalam benak saya. Bukan berbagi sesuatu yang nampak dan bisa didiskusikan. Ada komunikasi yang terjalin.

Ah… Saya mohon maaf jika memang ada kata saya yang salah. Tentang apa yang tertulis dan tergurat di dalam blog ini. Tentang betapa “sok”nya saya menggurui anda…

Semoga Alloh memampukan kita..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s