Romantisme Masjid Raya Baiturrahman

Sore hari setelah saya absen, saya bergegas keluar dan menuju komplek Masjid Baiturrahman. Ada dua tujuan, satu saya menunggu angkot yang akan membawa saya kembali menuju kontrakan dan kedua saya ingin menikmati sore hari yang panjang di Banda Aceh.

Jam 17.30 masih termasuk sore disini. Maklum, maghrib disini dimulai jam 7an. Jadi sepulang kantor, masih ada waktu sekitar 2 jam buat tid.. Eh, buat jalan-jalan. Dan disinilah saya terpesona dengan romantisme Masjid Raya Baiturrahman. Well, saya suguhi pemandangan yang berhasil saya bidik;

Well, gambarnya memang kelihatan gelap. Mungkin karena saya hanya memakai kamera hape biasa untuk mengambil gambarnya. Yaaah, saya memang bukan fotografer andal (ngeles.com). Tapi memang ini yang bisa saya sajikan sementara ini. Sepertinya ada yang harus menyambangi tempat ini bersama saya deh.😀

Ditunggu.

Eniwey busway siomay bawang bombay. Ijinkan saya untuk sedikit bercerita tentang Masjid Raya Baiturrahman ini.

Ceritanya memang tidak sefenomenal cerita Candi Prambanan yang melibatkan kisah antara Bandung Bandawasa dengan Rara Jongrang. “Buatkan aku seribu candi dalam satu malam”, seperti kata Rara Jonggrang kepada Bandung Bandawasa. Gaa… Ga seperti itu kok..

Masjid yang keren ini merupakan masjid peninggalan seorang sultan yang menjadi tauladan Warga Aceh. Sultan Iskandar Muda namanya. Sultan yang mahsyur dengan kejayaannya kerajaan Samudera Pasai. Dimana ketika itu daulah Islamiyah berkembang begitu suburnya dibawah naungan kekhalifahan Ottoman.

Well, akan sangat panjang lebar jika saya bercerita tentang Sultan Iskandar Muda di dalam tulisan ini. Mungkin nanti atau ketika kesempatan itu datang, insyaAlloh akan saya bahas.

Masjid ini dibangun pada periode 1612 Masehi. Tentu sudah sangat lama bukan?

Dinamakan dengan “Baiturrahman”, yang artinya “Rumah Alloh yang Maha Pengasih”. Dinyatakan sebagai masjid negara ketika itu.

Namun sayangnya, masjid yang asli telah terbakar ketika Belanda menyerang Aceh pada tahun 1873. Saya tidak tahu apakah benar-benar habis terbakar atau tidak. Sumber sejarah saya sangat minim tentang peristiwa ini. Tapi pada tahun 1875 masjid ini dibangun kembali.

Pada awalnya masjid ini hanya terdiri dari satu kubah. Seperti pada gambar yang tampil diatas. Kemudian pada tahun 1953 masjid ini diperluas menjadi 3 kubah dan akhirnya pada tahun 1968 masjid ini memiliki 5 kubah sebagaimana yang nampak pada foto-foto tentang Aceh.

Masjid ini sangat indah. Nyaman di dalamnya. Sejuk dan yang paling membuat saya betah berleha-leha di dalamnya adalah karena ada suara kicauan burung-burung pipit. Bayangkan suasana yang damai terasa! Seperti saya merasa di tengah dangau yang penuh dengan burung pipit! Sejuk dan damai!

Hmmm… Sholat sekaligus tilawah sambil berleha-leha di kala siang panas terik hawa pantai Banda Aceh, sungguh menggoda. Nyamaaaaan sekali di sini. Sambil bersandar di salah satu tiangnya yang kokoh ini.

Tambah lagi, di pelataran masjid ini ada rerumputan yang hijaaaaaaau sekali. Nyaman dan empuk dipakai buat leha-leha. Saya jadi inget dengan Khalifah Umar bin Khatthab yang mempunyai tempat “nongkrong” favorit di depan Masjid Nabawi. Ada sebatang pohon kurma yang jadi tempat beliau bersandar yang mampu membuat utusan Persia berdecak kagum ketika melihat Umar terkantuk-kantuk di bawahnya.

“Engkau begitu adil maka engkau aman meski tanpa kawalan”, begitulah redaksi yang diragukan keabsahannya. Maklum, mereka menggumam menggunakan bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia seperti yang saya tuliskan diatas.

Oh yah! Masjid Baiturrahman sering sekali dipakai buat akad nikah. Tak jarang (katanya lhooo) hampir tiap jam ada yang melangsungkan akad nikahnya di sini. Mungkin ada anggapan bahwa ketika menikah di sini, lebih afdhal apabila dibandingkan di masjid yang lain. Yang jelas, ada 3 sahabat saya yang telah melangsungkan akad nikahnya di masjid ini.

Pertanyannya; “Selanjutnya siapa yang saya hadiri nikahnya disini?”😀

Masjid ini juga menjadi saksi tewasnya Jenderal Belanda. Jenderal Kohler.

Ia tewas ditangan seorang sniper Aceh. Ia tewas seketika dengan peluru yang bersarang di jantungnya. Keren sekali! Sepengatahuan saya, hanya ada dua jenderal kalangan antek penjajah yang berhasil ditewaskan oleh para pejuang. Satu yakni si Kohler ini dan yang kedua adalah Mallaby yang tewas di Surabaya pada peristiwa 10 November 1945 yang heroik nan menyejarah itu.

Dan yang menarik, keduanya tewas di tangan para santri mujahid yang menyerukan Jihad Fii sabilillah kepada penjajah La’natulloh. Berpadu dalam teriakan takbir nan membahana dan mengusir serentak para penjajah dalam naungan Islam. Sangat luar biasa sekali!

Ini dia buktinya… Bukti kesombongan Belanda yang tersungkur di depan masjid indah ini.

 

**sumber cerita; wikipedia & indonesia

**gambar dari; Google maps, dokumentasi pribadi dan Aceh Forum

One response to “Romantisme Masjid Raya Baiturrahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s