Sudahlah!

Sudahlah!

Eko Novianto

 

Cerita lalu seakan nyata/

Larut kita di dalam rasa/

Mengalir terbawa/

jangan teruskan.

Kita yang pernah /

mengukir cinta/

Berbayang masa saat bersama/

Hanyutkan kita /

coba hentikan.

Sudahlah… aku pergi… Sudahlah… aku pergi

Lelahkan jiwa /

meski berharap/

Rasakan lagi cinta kita dulu/

Tapi… /

kita terpisahkan

Derasnya sisi religi/

Mengasah alur hidup kita/

Jangan sesali/

Coba kuatkan hati…Aku pergi…

(Padi – Sudahlah)

Kali ini, saya sedang menulis untuk saya dan teman teman saya. Saya tidak sedang menulis untuk anak anak muda hebat di forum ini.

Bapak dan ibu, dengan kehebatan yang anda miliki dan dengan mengingat carut marutnya dunia, rasanya, saya tidak yakin tidak ada lawan jenis yang tertarik pada anda di masa lalu. Saya sungguh tak yakin jika tak pernah ada lelaki yang terpukau pada keistimewaan anda. Saya sungguh tidak yakin jika tak ada seorang perempuanpun yang serius pada diri anda. Saya yakin anda yang di sini adalah hal yang memukau bagi lawan jenis anda. Mungkin, cuma perempuan hebat yang tak tertarik pada anda dan mungkin cuma laki laki yang sedang bodoh yang tak terpukau dengan anda.

Dunia sekarang menjadi sangat sempit. Anda mudah saja menemukan orang yang terselip dan tersembunyi. Alhamdulillah,.,..

Tetapi mungkin ada orang yang anda temukan kini yang memiliki cerita di masa lalu anda. Entah jauh atau singkat, mungkin ada cerita di masa lalu, tetapi pernah ada cerita.

Menguatnya dakwah membuat anda memutuskan cerita itu dan menjalani hidup dengan lebih baik. Dengan segenap keterbatasan, anda lakukan hal besar itu. Sekarang anda sudah menapaki jalan yang bermanfaat untuk masa depan anda. Alhamdulillah,.,.

Tetapi ingat, bahwa hari ini kita pada sebagiannya adalah apa yang ada di masa lalu. Maka, masa depan kita –sebagiannya- adalah apa yang ada pada hari ini.

Maka berhati hati adalah langkah utama. Jangan menganggap remeh meski tidak harus terlalu ketakutan. Tak perlu malu memiliki masalah ini, setidaknya jangan terlalu malu. Masa lalu itu pernah ada dan sudah menuliskan beberapa hal di dinding hati kita. Tentu kita tak ingin membebaslepaskan hasrat, tetapi tak perlu terlampau malu dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu.

Mungkin ini bisa menasehati dan mengingatkan ;

Derasnya sisi religi/Mengasah alur hidup kita/Jangan sesali/Coba kuatkan hati…Aku pergi…(Padi – Sudahlah)

Memang ini bukan hal mudah. Tetapi pilihan sudah diambil. Layar sudah terkembang dan biduk ini sudah berlayar jauh. Jiwa ini sudah terasah sekian lama, maka tak perlu terlalu takut dengan masa lalu meski jangan memandang remehnya.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. 3:102)

Sebagian sahabat memaknai haqqa tuqatihi dalam makna menaati Allah tanpa kedurhakaan, mengingatNya tanpa kealpaan, dan bersyukur padaNya tanpa ada yang diingkari. Abdullah ibnu Mas’ud sudah menyumbangkan hal baik itu kepada kita sampai hari ini. Alhamdulillah,.,.,.

Tetapi juga ada firmanNya ;

Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS. 64:16)

Ini bukan pertentangan. Allah –di surat Ali Imran- menjelaskan batas akhir dan puncak ketaqwaan. Sedangkan di surat At Taghabun, Allah berpesan tentang keragaman kemampuan. Maka, bercita citalah meraih puncak ketaqwaan itu dan jika teraih itulah kenikmatan. Dan jika tidak teraih, jangan sekali kali menyengaja melakukan ketidaktaatan. Jadi, Ali Imran bercerita tentang tujuan dan At Taghabun bercerita tentang jalan yang ada.

Maka jika di masa lalu – dijalan hidup kita- pernah ada kecelakaan, tak perlu malu dan tak perlu berputus asa dalam mencapai puncak ketaqwaan. Teruslah menggapai puncak ketaqwaan itu. Tetapi juga jangan memandang remeh dan membiarkan rasa masa lalu itu berlanjut tak terkendali. Jangan menyengaja melakukan ketidaktaatan, berat untuk melaluinya.

Maka mungkin ini bisa menasehati ;

Derasnya sisi religi/Mengasah alur hidup kita/Jangan sesali/Coba kuatkan hati…Aku pergi…(Padi – Sudahlah)

Sudahlah… Biarkan catatan masa lalu itu pernah ada dan kita merancang karya untuk masa depan kita. Sudahlah… jangan terlalu memandang remeh. Terima kasih untuk banyak sahabat yang rajin mengingatkan langkah langkah in

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s