Berbekam

Tepat malam ahad kemarin saya berbekam. Setelah hampir 2 bulan ga berbekam. Maklum, kadang banyak malasnya kalau sudah di kosan. Sebenarnya sunah berbekam  paling bagus dilaksanakan pada tanggal 17, 19 atau 21 bulan hijriah, tapii yaa berhubung saya orangnya moody sekaligus impulsif, saya tidak melaksanakannya pada tanggal-tanggal itu. Seringkali ketika saya menunda-nunda sebuah keinginan, seringkali saya mengingkari tundaan tersebut. Daripada nanti-nanti tapi lantas tidak jadi, mending sekalian dilaksanakan hari ini juga. Toh juga bukan hal yang terlarang ketika saya tidak melaksanakan sunah itu.

Pas juga kondisi badan sedang tidak fit. “Bumbu & rempah”nya kurang, jadi rasanya tidak enak badan saya. Meski ada sahabat yang menambahkan, sebenarnya kurang ditambah madu doang, biar lebih manis rasanya.

Semingguan dipinjami motor ama teman, memuat saya melupakan sepedaan yang biasa saya lakukan hampir tiap hari. Ditambah pula selama semingguan ini aktifitas begadangan saya sedang tinggi-tingginya. Padahal sebenarnya cuma ngobrol ama rekan satu kosan ditambah baca buku dan noton saja kegiatannya.

Tapi dari “teler”nya saya seminggu ini mengajarkan bahwa olaharaga itu penting. Sesederhana apapun bentuknya. Entah sekedar jalan kaki, entah juga sekedar sepedaan, atau cuma sebatas lari-lari kecil. Terasa sekali ketika selama seminggu ini saya tidak menggerakkan badan untuk berolahraga. Badan rasanya lemas dan kurang bertenaga. Mau ngapa-ngapain juga tidak berselera.

Ditambah juga tidur yang kurnag berkualitas. Sebenarnya tidur tidak perlu lama kok. 4-5 jam sehari sebenarnya sudah cukup. Kalau saya malah mengusahakan waktu tidur hanya 4-5 jam saja. Tapi entah kenapa selama saya tidak berolahraga, tidur tidak begitu nyenyak. Mungkin karena otot saya tidak capek. Biasa setelah sepedaan badan keringatan, setelah itu mandi dan dilanjutkan aktifitas ringan. Setelah itu tidur terasa nyenyak sekali dan bangun dalam keadaan segar.

Itulah..

Ternyata efek dari malas sangat besar sekali.

Yang pasti, setelah bekam, badan ini terasa ringan. Meski ketika bekam, hanya sedikit darah kotor yang keluar. Mungkin karena 2 pekan sebelumnya saya donor darah di PMI. Jadi banyak darah kotor yang sudah dikeluarkan terlebih dahulu. Alhasil, ketika bekam kemarin, hanya “angin” saja yang benyak keluar, ditunjukkan dengan banyaknya uap air ketika cuping bekam ditarik sebelum kulit saya dilukai untuk mengeluarkan darahnya. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah, donor darah bukan bertujuan untuk mengeluarkan darah kotor. Tapi untuk membantu orang lain, meski pada efeknya darah yang kita keluarkan itu akan digantikan oleh sel darah baru lagi oleh metabolisme tubuh kita. Jadi darah kita yang lama akan tergantikan lagi. Ada 2 sisi positif, yakni kita bisa membatu orang lain dan darah yang lama akan tergantikan oleh darah yang baru.

Ga ada yang seram kok soal donor darah dan bekam. Paling kalaupun sakit hanya di awalnya saja. Itu pun sakit yang bisa ditanggung oleh laki-laki. Ga “semenyeramkan” sakit yang ditanggung oleh para ibu ketika melahirkan. Mungkin terkesan mengerikan, tapi insyaAlloh efek dari kedua hal ini besar sekali. Dan saya sudah membuktikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s