Tentang #kecewa

Sekitar satu pekan yang lalu, saya menuliskan tentang perenungan saya di twitter. Singkat dan padat. Namun mungkin karena saya kurang bisa membahasakannya sebagaimana saya menuliskan secara panjang lebar melalui media notes atau blog, sempat ada pertanyaan khawatir mengenai kekecewaan.

Saya anggap wajar, karena jarang sekali saya menuliskan secara pendek-pendek melalui media twitter. Media ini memang membutuhkan kratifitas untuk menghemat kata namun tak mengurangi esensi kata yang dihemat itu. Tidak seperti media blog yang bisa bikin nggedabrusan sebanyak mungkin.

Sebelumnya saya pernah berjanji menuliskan tentang harapan-harapan. Tapi tulisan itu ternyata tak kunjung ditulis. (nunduk mohon maaf deh…). Entah kenapa, banyak hal yang bikin saya keki untuk menuliskan harapan-harapan itu. Berat euy! Biasanya saya menuliskan secara keseharian melalui bahasa yang sederhana, tapi ketika hendak menuliskan tentang harapan-harapan, tangan ini gimanaa gitu rasanya.

Tapi entah kenapa, saya begitu lancar menuliskan kekecewaan. Ada sebabnya.

Anggapan yang normal adalah bagaimana menggantungkan mimpi-mimpi setinggi langit. Melukis imajinasi dengan cita-cita yang mengangkasa. Pertanyaannya; “Apakah itu cukup?”

Tidak. Imajinasi, cita-cita, mimpi memerlukan aksi nyata.

Tapi sekali lagi; “Apakah itu cukup?”

Tidak. Semua itu membutuhkan sikap mental yang kuat. Dan salah satu sikap mental itu, saya ingin menuliskan tentang kekecewaan. Tulisan ini ada sebuah perenungan bagi saya pribadi. Karena sejujurnya, inilah sebuah sikap yang seharusnya ada di dalam diri saya. Idealnya sebagai pemimpin, memang membutuhkan mental yang kuat dan teruji. Namun sebelum adanya ujian itu, perlu ada sikap untuk meneguhkan tentang ujian yang ada.

Saya teringat dengan sebuah kisah di dalam Al-Qur’an. Di kala perang antara Jalut vs Thalut. Ketika itu Thalut membawa pasukannya hendak memerangi Jalut, di awal perjalanan menuju medan perang ia berpesan kepada anak buahnya bahwa nanti di depan ada sungai membentang.

“Sesungguhnya Allah menguji kalian dengan sungai. Siapa yang meminum airnya, maka ia bukan pengikutku. Kecuali mereka yang meminum dengan seciduk tangan.”

Dan ternyata, hanya sedikit yang mendengarkan nasehatnya.

Mungkin ini adalah salah satu saya berbicara tentang kekecewaan. Bukannya ada satu dua pihak yang membuat saya kecewa. Bukan. Bukan itu. Saya hanya ingin menasehati diri saya. Agar mampu melangkah meski suatu saat kekecewaan itu bakal ada. Entah dari saya sendiri maupun bukan dari saya.

Mudah bagi jika berbicara tentang mimpi-mimpi muluk. Mudah. Semudah pula ketika hati telah mengazzamkan niat dan melangkahkan kaki. Namun tak mudah jika kekecewaan datang. Ia adalah salah satu mimpi buruk sebelum kegagalan menjelma seolah kiamat.

Banyak hal yang membuat saya sadar tentang kekecewaan. Berbagai kisah yang diceritakan sahabat, berbagai kisah yang saya dengar, berbagai kisah yang saya lihat sendiri. Ketika kekecewaan itu hadir. Seolah-olah dunia juga berakhir. Hingga akhirnya banyak yang takut melangkah dikarenakan kekecewaan itu.

Mending ga ngapa-ngapain daripada dikecewakan atau mengecewakan..”

Itulah akhir yang nyata dari sebuah keputusasaan.

Dan kekecewaan seringkali menghadirkan keputusasaan.

Dan inilah yang menyadarkan saya pribadi bahwa berani kecewa adalah salah satu pondasi mimpi.

Kekecewaan bukanlah sebuah hal yang buruk.

Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, pada suatu saat terbitlah kecewa. Namun bukan hal itu yang membuat kita berhenti melangkah. Itulah bukti bahwa kita memiliki harapan. Maka adalah sebuah keniscayaan kerja-kerja yang panjang ketika kecewa itu hadir. Kekecewaan adalah indikator bahwa usaha perlu ditingkatkan lebih tinggi.

Bukan hanya terpuruk meratapi atau bahkan mengabaikan. Ada kerja panjang yang tentu membutuhkan stamina yang tinggi guna memulihkan kekecewaan yang hadir. Justru dengan hadirnya rasa kecewa itu, maka ada hal bagus yang akan hadir pula. Yaitu sebuah usaha dan upaya untuk menggapai harapan yang seharusnya ada.

Pada suatu saat ketika perjalanan seolah-olah mentok dan jalan menjadi buntu, mungkin rasa kecewa akan hadir. Namun bukan itu yang membuat perjalanan terhenti. Rasa ini adalah peringatan untuk menempuh jalan lain atau berusaha sampai tembok halangan itu runtuh.

Sekali lagi, sangatlah wajar ketika rasa kecewa itu hadir. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana menyikapi kewajaran atas rasa kecewa itu. Ada yang mentok berhenti serta menyerah, ada pula yang justru terus tangguh kukuh maju.

Ada salah satu motivator yang memiliki semboyan; “Berani Gagal”. Ia berkata bahwa setiap orang PASTI berani untuk sukses, namun hanya sedikit yang berani untuk gagal.

Ada seorang entrepreneur berkata; “Saya berbisnis untuk mencari rugi”. Ia berkata bahwa setiap pengusaha pasti mencari untung dalam usaha maupun bisnisnya. Namun hanya sedikit yang berani menghadapi kerugian. Jika niat mencari untung pasti suatu saat mendapatkan rugi, maka niat merugi tak selamanya mendapatkan rugi, malah keuntungan.

Itulah mengapa, saya ingin berbicara tentang perasaan negatif sebelum menuliskan tentang hal yang positif. Karena kekecewaan, gundah gulana, gelisah dan berbagai perasaan yang tidak enak lainnya pasti akan hadir di dalam langkah-langkah kedepan. Ini ada sebuah keniscayaan serta kepastian. Namun bukan hal ini yang membuat langkah kita terhenti. Ini adalah sebuah penguatan niat dan penguatan jati diri sebelum semua hal itu hadir di depan mata.

Tidak ada yang salah ketika berbicara tentang harapan-harapan. Namun jangan lupa diantara harapan itu, proses untuk menggapainya memerlukan usaha, upaya dan tak lupa doa. Setiap hal itu pasti ada ujiannya. Entah yang melenakan maupun yang menyakitkan. Inilah yang harus dipahami oleh masing-masing pihak. Bahwa dalam meraih mimpi, dalam membangun cita-cita pasti ada ujiannya. Dan salah satu ujian adalah rasa kecewa.

Dan dikala ia hadir, selayaknya ada motivasi untuk terus menerus memperbaiki diri. Untuk terus menerus tak kenal menyerah dalam melangkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s