Cukup & Berkah

Bekerja pada sebuah instansi Kementerian Keuangan membuat saya mengetahui seluk belum bermacam-macam hal. Wa bil khusus di Direktorat Jenderal Pajak. Yang saat ini terkenal dengan pungutan pajaknya dan terkenal dengan Gayus-nya.

Pada awalnya saya tidak membayangkan akan memasuki gelanggang dunia kerja ini. Toh ketika lulus SMA, saya bermimpi menjadi petani. Petani? Iya.. Sueeeer! Saya pada awalnya bermimpi menjadi petani.. Yang punya perkebunan sayuran di dataran tinggi sekian hektar dan ditanami berbagai macam jenis sayuran dan buah-buahan. Sambil tak lupa menghidupi sekian ratus hektar perkebunan tersebut dengan sapaan ramah para pekerja saya dambil tak lupa berjalan-jalan bersama anak istri saya dipinggiran pematang sawah.

Tapi takdir berkata lain. Entah bagaimana sebabnya, saya terdampar di S1 Akuntansi UNS dan kemudian mendapatkan kesempatan belajar di STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Untuk saat ini, menjadi petani menjadi mimpi yang tertunda saya. Karena setelah lulus, saya langsung ditempatkan kerja di KPP Pratama Banda Aceh.

Wuuuzzzz!! Bertransformasi dari anak rumahan di Solo -Karanganyar tepatnya, dua Karanganyar kelak..-, menjadi anak kosan di Jakarta dan sekarang menjadi anak rantau di Banda Aceh.

Menjadi petani? He he.. Nanti dulu..

Hingga sekarang saya tidak bisa membayangkan rutinitas kerja saya; “5 hari bolak-balik dari tempat yang sama, dengan teman yang sama, pekerjaan yang sama”.. Tak baik saya mengeluh, karena sesuatu tak kan cukup jika tidak disyukuri. Saya berharap Alloh menguatkan serta memampukan saya jikalau memang saya harus menjemput rezeki di instansi ini seumur hidup saya.

Jadi petani? Sekali lagi, nanti dulu.. Belum saatnya..

Namun kali ini saya banyak belajar mengenai rezeki. Tepatnya KONSEP rezeki.

Seperti yang saya jelaskan di atas, saat ini saya menjadi petani.. Eh.. Pegawai pajak di kantor yang nun jauh di ujung Indonesia. Tentu ada hal-hal yang saya tahu dan ketahui di seluk beluk keuangan. Meski hanya sedikit, setidaknya saya tahu mana HITAM dan mana PUTIH di kota ini.

Seringkali, karena pemberitaan yang tidak lengkap, nama instansi saya tempat bekerja tidak terekspose dengan lengkap. Banyak berita yang disimpang-siurkan demi oplah satu dua media serta pemiliknya. Well, you know who-lah..

Banyak yang menyalahkan kami. Entah dibilang Gayus-lah, entah dibilang korup-lah. Banyak.. Namun tak sedikit pula yang memuji kami setelah tahu bagaimana pelayanan yang kami lakukan di kantor kami. Tidak berstandar perusahaan go public yang eksis, namun sudah sangat cukup sebagai instansi pemerintahan. Hanya perlu perbaikan serta pengokohan komitmen saja.

Namun tetap saja, bagi masyarakat tertentu, kami dianggap nyinyir.

Saya terima saja. Toh ketika saya menatap diri sendiri, ternyata saya belum mampu seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Saya akui itu. Dari sisi kedisiplinan, maupun dari sisi konsistensi terhadap waktu. Tapi saya sedikit banyak tahu mengenai HALAL & HARAM.

Saya tahu ada beberapa hal yang “aneh” mengenai satu dua pihak diluar instansi saya. Namun semuanya seperti kentut, ada baunya tapi tak tahu darimana sumbernya. Sampai saya membaca artikel ini. Yang menyebutkan 89% tender proyek pemerintah dikorup. Ketika saya tunjukkan artikel ini kepada rekan sekerja saya, setengah bercanda ia nyeletuk “Salah tuuuh… Yang bener 99%!”.

Ha ha..

Pun pada suatu ketika ada yang konsultasi tentang masalah pajak kepada saya. Iseng-iseng saya bertanya tentang berapa besaran “Saweran” kepada beberapa pihak. Langsung tersebut berapa nominal, yang pasti sekian persen dari nilai proyek tersebut. Biasanya saya candai klien saya tersebut; “Disini bayarnya di bank, ga lewat kami… Berarti ga sama kan dengan instansi tersebut?”.

Sekali lagi, dalam format becanda. Karena memang instansi kami sedang jadi kambing terhitam diantara kambing hitam lainnya. Jadi perlu pencitraan serta sosialisasi yang cair serta tidak menggurui. Saya sadar, citra yang ada di instansi kami menyebutkan bahwa bayar pajak melalui pegawai pajak atau lewat kantor pajak. Namun sesungguhnya kantor kami hanyalah tempat pelaporan, pembayaran pajak hanya melalui bank ataupun dipotong oleh KPPN atau dipotong oleh bendaharawan proyek pemerintah.

Jadi tak ada uang yang lewat kantong kami atau mampir ke kantong kami. Tempat saya bekerja hanyalah tempat pelaporan saja.

Lantas kenapa ada Gayus? Mungkin dalam tulisan yang lainnya mengenai Gayus. Yang jelas Gayus tidak bekerja sendirian. Tentu ada pihak PENYUAP dan YANG DISUAP. Dalam kacamata telanjang jelas Gayus merupakan PIHAK YANG DISUAP, lantas kemana PIHAK PENYUAPnya? Tentu jika anda masih punya pikiran waras, pasti akan menanyakan “kejanggalan” ini.

Tapi memang ada hal yang aneh di negeri kita tercinta ini.

Padahal, jika merenungi tentang konsep rezeki, yang jelas ada satu konsep utama; KEBERKAHAN.

Rezeki yang bermanfaat adalah rezeki yang berkah. Entah melalui apa jalannya. Yang jelas melalui jalan yang HALAL. Bukan masalah banyak atau sedikitnya. Tapi mengenai kecukupan. Jika berbicara tentang banyak atau sedikit, tentu saya masih kurang. Kurang untuk bolak-balik Banda Aceh – Solo, kurang untuk jajan, kurang untuk nyalurin hobi, daaaaan berbagai hal yang kurang lainnya. Jika saya anggap hidup untuk bersenang-senang saja.

Tapi sekali lagi, konsep rezeki adalah cukup. Bukan berarti di intermezo-kan sebagai; “Cukup ketika buat beli mobil, cukup ketika buat beli rumah, cukup ketika buat beli tanah”. Susah juga yah mendefinisikan cukup. Bagi saya saat ini, insyaAlloh sudah sangat cukup untuk sendirian, mungkin jika sudah menikah insyaAlloh juga cukup kok. Belum saya coba soalnya..😀

Tapi memang, ketika berbicara tentang kecukupan. Mungkin saya sudah sangat cukup. Mengingat banyak yang jauuuuh sekali di bawah standar saya. Bahkan yang jauh dibawah standar itu dipakai untuk menghidupi anak-istri. Mungkin saya perlu berbicara mengenai kesyukuran.

Meski kesyukuran bukan berarti saya lantas harus berhenti di titik ini. Mungkin kelak ada rezeki yang perlu saya jemput dengan sedikit upaya yang lebih keras, dengan sedikit usaha yang lebih uleh dan sedikit tindakan serta perubahan. Siapa tahu bukan?

Siapa tahu saat ini saya hanyalah sebagai seorang pegawai biasa. Tapi siapa tahu suatu saat impian saya menjadi petani sederhana yang memiliki ratusan hektar perkebunan dengan kiri kanan disampingnya tumbuh sayur mayur serta buah-buahan kesampaian. Siapa tahu bukan?

Yang jelas, di dalam posisi ini, 5 hari bolak-balik ke tempat yang sama, dengan tantangan yang sama, dengan rutinitas yang sama pula.. Semoga Alloh menguatkan serta memampukan. Guna menghadapi hari ini serta menghadapi hari depan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s