Profesi; Hitam Putih

Dalam memandang sebuah profesi, terkadang ada stigma yang melekat dengannya. Entah stigma negatif maupun positif. Bisa jadi karena pandangan umum yang digeneralisir atau karena pengalaman masyarakat umum terhadap sebuah profesi itu.

Namun dengan arus keterbukaan yang besar saat ini, terkadang stigma-stigma yang ada ternyata salah. Ternyata di setiap profesi yang digeluti ada sisi hitam dan putihnya. Misal tidak melulu dokter yang “berlabel” penolong ternyata berjiwa penolong, tidak melulu orang-orang yang aktif di lembaga sosial berjiwa sosial.

Arus informasi serta pengalaman yang ada seringkali merubah “label-label” yang melekat di balik profesi satu dengan yang lainnya. Misal lewat milis, twitter, blog dan berbagai media yang ada. Maklum, sekarang zaman internet yang ada di dalam genggaman. Tinggal browsing lewat browser mini, maka ketik sana-sini akan muncul berbagai macam arus informasi yang ada.

Terkadang ada juga satu dua pihak yang turut berbagi mengenai profesi yang saat ini mereka geluti. Tidak hanya yang baik-baik saja namun mereka berbagi pula ketimpangan yang ada. Ada keresahan dan kegelisahan di tiap profesi yang ada. Kegelisahan dan keresahan itulah yang membuat satu dua pihak itu berbagi keluh kesah lewat beberapa media.

Begitu pula dengan pengalaman. Dengan seringkalinya kita berinteraksi satu sama lain membuat wawasan yang ada bertambah. Dan seringkali kita dihadapkan kepada kenyataan-kenyataan yang ada. Baik pahit maupun manis.

Begitu pula dengan profesi yang saat ini saya geluti. Membuat saya tahu bagaimana sih seluk beluk pengelolaan keuangan di swasta maupun negeri. Ada hitam dan ada putihnya.

Terkadang merasa miris juga dengan kondisi yang ada. Ketika dihadapkan kepada penyimpangan instansi satu dengan yang lainnya. Di instansi saya kemungkinan penyimpangan itu ada. Namun saya rasa ketika melihat cakupan lingkungan kerja yang kecil ini, tidak “semengerikan” dengan kenyataan terhadap instansi tetangga.

Memang ada reformasi yang dicanangkan sejak awal 2000an, tapi memang butuh banyak waktu untuk mereformasi total. Langkahnya sudah jelas, namun perlu kesabaran untuk istiqomah di dalamnya. Minimal ketika kinerja belum maksimal, di sisi keuangan sudah lumayan bagus. Minim penyimpangan.

Sempat seorang sahabat mengeluhkan dengan kenyataan yang harus ia hadapi ketika berhubungan dengan “dapur” keuangan. Biaya-biaya “siluman” itu nyata! Dan memang ada! Dari berbagai lini dan berbagai instansi! Kemungkinan penyimpangan itu besar ketika berhubungan dengan uang. Dari seratus persen ada sekian persen untuk biaya ini dan biaya itu.

Saya sempat tercenung kaget ketika mendengar kenyataan yang ada. Bagaimana uang setan dimakan iblis. Dengan proyek satu memakan proyek yang lain. Malah terkadang saya sering merasa bahwa kenyataan hitam di dunia keuangan jauh lebih banyak dibandingkan yang manis-manisnya. Apalagi dihadapkan dengan perilaku beberapa pejabat yang haus akan kekuasaan. Bakal jauh lebih rumit.

Penyimpangan itu sangat mudah kok ketika melongok “dapur” instansi satu dengan yang lainnya. Misalnya saja apabila membandingkan antara penghasilan seseorang dengan gaya hidupnya. Jujur.. Menurut pendapat saya menjadi seorang pegawai negeri tidak akan membuat seseorang menjadi kaya raya! Tidak bakal seseorang menjadi pegawai negeri yang kaya, kalau cukup iya.. Tapi nggak bakal kaya kalau profesi seseorang itu hanya mengandalkan menjadi pegawai negeri saja.

Tentu dengan profesi yang saya geluti, saya dan rekan-rekan tahu berapa sih penghasilan profesi satu dengan yang lainnya. Memang faktor iseng itu ada untuk sekedar membandingkan profesi satu dengan profesi yang lainnya. Tapi itu tidak dominan. Tuntutan perkerjaanlah yang membuat saya tahu dan harus mengetahui berapa penghasilan yang diterima orang satu dengan yang lainnya.

Terkadang merasa miris ketika melihat instansi yang gedungnya dipenuhi oleh mobil pegawainya yang mewah dan mentereng. Sedangkan instansi itu tidak melayani tamu yang berlalu lalang semacam bank dan kantor pos. Yang kebanyakan keluar masuk gedung itu hanyalah para pegawainya saja. Tapi tongkrongan pegawainya sangat “wah”.

Kenapa musti miris? Karena saya tahu berapa nominal gaji yang diterima para pegawai tersebut seharusnya hanya cukup untuk menghidupi keseharian saja. Sedangkan ketika melongok kebutuhan terhadap mobil adalah sebuah kebutuhan sekunder yang apabila kebutuhan primer telah tercukupi maka baru akan bisa terlaksana. Kebutuhan sekunder ini adalah sebuah kebutuhan untuk beraktualisasi. Sedangkan mobil yang ada bukanlah mobil yang sekedar mobil, namun lebih mobil yang menonjolkan prestise seseorang yang mengendarainya.

Perasaan miris ini terkadang jadi senyum yang sinis ketika melihat instansi apa yang terpampang di papan namanya. Terkadang nyeletuk; “Oooh.. instansi basah”. Maklum kadang banyak proyek yang diada-adakan di instansi itu.

Tapi kadang profesi bisnis dan wirausaha-pun tidak bisa lepas dari hitam putihnya kehidupan. Adakalanya penyimpangan itu hadir di sisi supplier yang mengutak-atik harga dan jumlah stok. Ada yang mengutak-atik kuitansi dan faktur dan sebagainya. Ada hitam putihnya.

Segala informasi yang ada ini membuat saya sadar bahwa memang tidak ada profesi yang benar-benar suci dan bersih. Apalagi ketika bersinggungan dengan banyak manusia dan berbagai macam pemikiran. Pasti ada gesekan yang timbul antara penentang penyimpangan itu, pemaklum penyimpangan dan penikmat penyimpangan.

Saya jadi ingat dengan percakapan antara Buya Hamka dan muridnya. Suatu ketika dalam pengajiannya Buya ditanya oleh seorang muridnya, “Saya pernah pergi haji ke Mekkah, ternyata disana ada pelacur. Saya heran, bagaimana mungkin di Mekkah yang suci ada pelacur.” Lalu apa jawab Buya Hamka? Dengan kalemnya ia berkata, “Saya pernah beberapa kali berkunjung ke California. Tetapi disana saya tidak menemui satu pelacur pun”. Dalam percakapan ini mengajarkan bahwa seseorang hanya akan menemui apa yang ia cari. Bahkan ketika di kota suci ketika ia mencari sesuatu yang tercela maka ia akan mendapatkannya.

Seorang sahabat pernah menuliskan di dalam notesnya bahwa di dalam pergaulan terkadang kita tidak bisa memilah-milah mana yang baik dan yang buruk. Karena ketika bermuamalah antara satu dengan yang lainnya pasti akan dihadapkan oleh pemikiran yang berbeda. Dan Islam juga tidak mengajarkan pemeluknya untuk menjadi rahib. Menyepi di puncak gunung dan merasa sholeh sendirian. Islam adaha sebuah rahmat bagi alam, maka ia bukanlah sebuah kesholehan yang dimiliki sendirian.

Maka sahabat saya menuliskan bahwa cara menghindarinya bukanlah dengan menjauhi serta menyepi sendirian. Apa yang perlu dilakukan hanyalah membangun imunitas terhadap penyimpangan-penyimpangan itu. Bagaimana membentengi serta mempertahankan diri terhadap penyimpangan yang ada. Jika diibaratkan bahwa ikan yang hidup di laut rasanya tetap tawar meski ia hidup di lingkungan dengan kadar garam yang tinggi. Namun ketika ia mati lantas diasinkan, maka rasanya asin meski ia diasinkan dengan kadar garam yang sama ketika ia hidup di lautan.

Mungkin memang memerlukan proses yang panjang serta lama untuk membangun kekebalan serta imunitas terhadap penyimpangan yang ada. Yang pasti, proses itu membutuhkan hati yang hidup serta bugar dan sehat!

Semoga Alloh memudahkan dan memampukan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s