LTAM #4; Ce I eN Te Aa

Let’s Talk About Marriage part 4

Cinta. Ada apa sih dengan Cinta? Apakah masih menunggu si Rangga balik dari Amerika? Hingga ia ga perlu memecahkan bergelas-gelas agar mengaduh sampai gaduh.

Atau sedikit intermezo dengan memetik gitar lantas bersenandung; “setia satu ce i en te a”

Well farewell..

Terlalu luas jika berbicara tentang kecintaan umat kepada perintah Alloh melalui rasulnya. Hingga dalam skala materi orang kafir berkata; “Rugilah Suhaib”

Namun sang Rasul berkata sebaliknya..

Terlalu luas pula jika cinta adalah sebuah pengejawantahan kepedulian terhadap umatnya ketika sang Rasul di akhir hidupnya berkata; “Ummati.. Ummatii.. Ummatii..”

Terlalu luas jika cinta adalah realisasi dari para bunda yang rela berberat-berat menahan kandungannya demi sang buah hati.

Terlalu luas kecintaan itu jika dibandingkan ketika salah seorang menteri berkata kepada junjungannya Umar bin Abdul Aziz; “Wahai baginda, di negeri ini semuanya telah berkecukupan kecuali baginda dan saya”

Namun cinta yang terkadang disikapi secara mengharu biru ini hanyalah cinta diantara dua anak manusia. Yang memunculkan kisah fenomenal Layla Majnun, Romeo Juliet, Samson Delilah, Sitti Nurbaya, Helen of Troy dan sebagainya..

Yah..

Apasih cinta itu?

Saya tidak mampu menjawabnya. Cukuplah segala rasa yang bercampur aduk menjadi satu menjadi jawabnya.

Lantas rasanya seperti apa?

Sayang sekali susah bagi saya menjabarkannya. Ibarat saya suka minum jus alpukat sedangkan anda lebih suka minum jus jambu kemudian anda menyuruh saya menerangkan apasih nikmatnya minum jus alpukat?

Susah..

Namun ketika tiba masanya, pertanyaan itu akan terjawab. InsyaAlloh..

Lantas kenapa bicara tentang cinta? Apa saya sedang jatuh cinta?

Yaaah.. Bingung juga yah.. Entah kenapa topik ini sudah pengeeen saya tulis sejak lama. Namun kok saya belum nemu mood yang pas buat nulisin tentang cinta picisan ala saya. Dan sialnya memang saya bukan orang yang puitis yang mendayu-dayu merangkai kata penuh dengan perasaan yang dalam. Saya cukup menjadi seorang penulis amatiran yang terlalu logis untuk menjadi romantis.

Hayoo.. Ngaku saja kalau sedang jatuh cinta.. Bener kan?

Menurut pendapat saya, ada dua jenis penerimaan cinta. Yang satu adalah “jatuh cinta”, frase yang seringkali dipakai dalam bahasa cinta sehari-hari. Laris manis tanjung kimpul bak kacang goreng.

Kejadiannya mendadak. Impulsif! Kalau bahasa Solo Jogya disebut dengan “mak jegagik”, “mak bedunduk”.

Ia tumbuh dengan spontan. Entah mungkin bibitnya sudah disemai secara tidak sengaja dan tidak disadari. Lantas ia baru sadar ketika bibit itu sudah tumbuh menjadi pohon kayu.

Bibit itu entah tersemai dari pertemuan yang rutin, perhatian yang intim dan keakraban yang lekat.

Pokoknya dari sesuatu yang sederhana menjadi bermakna.

Lantas ketika sudah tumbuh. Pertemuan yang tadinya biasa menjadi ada rasa. Ada salah tingkah dan salah persepsi ketika bertemu atau bahkan ketika mendengar namanya disebut.

Maka dikatakan, ia telah “terjatuh” dalam.. Ehm.. Saya tidak nyaman menyebutnya cinta, saya lebih nyaman menyebutnya; “suka”

Jalan kedua dalam langkah cinta adalah “bangun cinta”. Jenis cinta yang menurut saya langka. Meski ia bukan jenis yang terancam punah. Namun jarang saja di jaman sekarang untuk memulai sesuatu dengan membangunnya.

Menurut saya, kategori cinta ini adalah sebuah cinta yang bisa memilih objek yang akan dicintai. Ia adalah sebuah konsekuensi atas sebuah pilihan untuk memilih. Ia leluasa untuk menentukan objek mana yang akan ia cintai.

Cinta ini tidak terjadi begitu saja. Namun saya rasa prosesnya sama. Jatuh cinta ibarat bibit yang tumbuh tak sengaja di tanah yang subur dibandingkan bangun cinta yang diumpamakan dengan bibit yang tumbuh di tanah yang tidak begitu subur namun ia dirawat dengan baik.

Yang pasti dua-duanya bisa tumbuh atau sebaliknya. Mati karena satu dan lain hal.

Cinta yang memilih ini adalah cinta proaktif. Namanya membangun tidak ujug-ujug langsung jadi kan? Ia butuh proses dan tentunya butuh usaha.

Rumit banget yah? Bagusan yang mana emang?

Jika menganggap bagus atau tidak, ini sudah masuk di wilayah subjektif. Kalau menurut saya dua-duanya bagus ASAL ia berjalan di koridor penghambaan kepada Alloh.

Tapi jika saya ditanya tentang sebuah kecenderungan, saya akan memilih cinta yang membangun.

Kenapa?

Karena saya ketika mengazamkan diri untuk membangun sesuatu, saya bertindak secara sadar akan pilihan saya. Mungkin inilah keegoisan saya yang pemilih.

Sesuatu yang dilakukan secara sadar jauh lebih saya sukai dibandingkan keputusan “kecelakaan”. Bagaimanapun keadaannya, ketika ada pilihan diantara beberapa hal jauh lebih saya sukai dibandingkan dengan keadaan dimana saya tidak bisa memilih.

Jadi saya menganggap bahwa mencintai adalah sebuah pilihan meski kadang kecenderungan itu tetap ada sekecil apapun.

Namun yang pasti ada sebuah kaidah; “Cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab”

Dan inilah yang mendorong keyakinan saya bahwa Alloh adalah sebab yang utama untuk mencinta. Karena hasrat, keinginan, kecenderungan pasti suatu saat akan lenyap, namun Alloh akan tetap kekal.

Semoga ketika pada saatnya, Alloh memudahkan segala urusan..

2 responses to “LTAM #4; Ce I eN Te Aa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s