Unthinkable

Jujur, saya ga tahu harus memulai dari mana ketika ingin menuliskan tentang film ini. Unthinkable. Yang tidak terpikirkan.

Film ini bercerita tentang terorisme. Dimulai ketika Steven Arthur Younger mengancam akan meledakkan tiga bom nuklir di tiga tempat di Amerika. Video ancaman ini segera booming melalui berbagai media televisi. Agen Brody yang ketika itu menyelidiki tentang jaringan terorisme merasa kecolongan dengan ancaman bom ini. Sebab ia tidak menyangka bahwa langkah divisi anti terorisme di FBI tempatnya bekerja kalah satu langkah dengan apa yang dilakukan Younger.

Sebuah kebetulan pada saat itu anak buahnya menyisir lokasi yang terlarang oleh CIA karena berkaitan dengan seseorang yang memiliki kebal hukum tak tertulis. Ia bernama Henry Herald Humphries atau di dalam film ini dipanggil dengan nickname “H”. Ia kebal hukum, terlindungi dan mempunyai autoritas di dalam wilayah khusus. Bahkan jenderal saja tak mampu “melawan” orang ini.

Yang menarik adalah mengenai penyelidikan ancaman bom ini. Rahasia dan tempatnya tidak diakui oleh negara. Dianggap “tidak ada”. Selain itu fakta yang mengejutkan adalah ternyata Younger telah tertangkap dalam hitungan jam setelah menyebarkan ancaman bom nuklir lewat televisi. Tertangkap bukan karena kabur, tapi karena ia dengan sengaja memancing dirinya untuk ditangkap dengan nangkring di depan kamera keamanan sebuah mall.

Disinilah thriller ini menanjak membuat dada berdegub kencang. “H” ternyata adalah salah seorang interogator superpower. Ia memiliki kewenangan lebih dengan menunjukkan metode interogasi yang sadis. Mungkin yang sekilas pernah nonton “Bourne Ultimatum” tahu mengenai metode interogasi yang “normal”. Metode normal adalah dengan tidak membiarkan tahanan tidur barang sejenak. Tahanan disekap dalam ruang yang terang menyilaukan mata, mengguyur air dan membiarkan tahanan berdiri dengan paksa karena diikat dengan tali. Dan metode “normal” ini diketahui oleh Younger karena ia adalah mantan tentara Amerika. Disinilah peran “H” membuat dada berdesir. Kenapa? Karena pada awal film dimulai, karakter “H” ini adalah seorang ayah yang penyayang terhadap anak-istrinya. Family man. Namun ketika menginterogasi Younger ia menunjukkan karakter penyiksa seperti dalam film “SAW”. Sadis dan berdarah dingin! Oleh sebab itu film ini memiliki rating “R”, dan besar kemungkinan tidak akan ditayangkan di bioskop setempat (dan pasti! Sebab film ini diproduksi tahun 2010 dan saya belum pernah melihat iklannya di bioskop Indonesia).

Disinilah karakter yang sangat kuat diperankan oleh Samuel L Jackson sebagai “H”. Seorang Family man yang ternyata memiliki peran sebagai interogator yang sadis dan berdarah dingin. Film ini mengajak penontonnya untuk berpikir tentang batas antara benar dan salah yang ambigu. Di saat keadaan yang genting dan mendesak, film ini berbicara mengenai moral. Mengenai benar atau salah.

There is no H. and Younger… there’s only victory and defeat. The winner gets to take the moral high-ground, because they get to write the history books. The loser… just loses. The only miscalculation in your plan… was me

Namun salah satu kelemahan yang sangat saya benci adalah film ini membawa-bawa nama Islam! Islam memiliki hubungan tentang terorisme! Itulah pembuka yang basi di dalam film ini. Eneg. Saya ga tahu apakah ini disengaja, karena pada akhirnya definisi yang dibawa bukanlah Islam. Bahkan Islam tidak ada hubungannya sama sekali dengan film ini. Cuma pembuka yang sangat basi!

Isu ini sangat sensitif, karena pada akhirnya ketika berbicara mengenai terorisme, ia adalah isu global. Bukan Islam. Bahkan dalam durasi film selama satu setengah jam ini, Islam hanya menunjukkan apa keyakinan Younger dan keluarganya. Selain itu ga ada! Bahkan tuntutan yang diajukan oleh Younger kepada “H” dan pemerintah Amerika sangat sederhana dan ga ada hubungannya keyakinan. Tuntutannya hanya dua; yaitu agar Amerika memberikan konferensi pers tentang pencabutan dukungan terhadap rezim diktator di negara-negara Islam dan penarikan pasukan Amerika dari wilayah negara-negara Islam. Tidak ada perbedaannya ketika label “Islam” di dua tuntutan itu digantikan oleh merek yang lain.

Tapi sekali lagi, film ini sebenarnya mengajak berpikir mengenai moral. Sebab di dalam film ini banyak plot hole yang mengambang. Pertanyaan bagaimana Younger merakit bom, bagaimana pasokan uranium sebagai bahan bom nuklir itu di dapatkan, bagaimana jaringan yang dibangun oleh Younger, bagaimana Younger beraksi sebagai “one man show” serta pertanyaan-pertanyaan logisnya tidak bakal terjawab. Bahkan jika terjawab-pun masih menyisakan berbagai pertanyaan yang lain. Karena pada dasarnya, isi yang disajikan di dalam film ini adalah konflik moral antara “H” dengan agen Brody. Konflik moral antara “negara” yang menggunakan “H” untuk melakukan berbagai teknik interogasi kotor kepada Younger.

Agent Helen Brody: How could you do this? How could you?

Steven Arthur Younger: You wanted proof. I needed a break. I can hold out now.

Agent Helen Brody: It was a shopping mall! 53 people are dead!

Steven Arthur Younger: That was your fault! God loves them. They’re martyrs, all martyrs.

Agent Helen Brody: 53 of them. 53 bodies blown to pieces!

H: Don’t do it Brody!

Agent Helen Brody: [picks up scalpel and holds it to Younger’s chest chest] Shut up! Where are those bombs? Where are those fucking bombs?

Steven Arthur Younger: Do it! Do it! I love my country, you people crap on it! I love my religion, you people spit on it! Just remember something, I’m here because I wanna be here! I let myself be caught, because I’m not a coward! I chose to meet my oppressors face to face! You call me a barbarian? Then what are you? What, you expect me to weep over 50 civillians? You people kill that number every day! How does it feel Brody? This is not about me! This is about you! How does it feel? You have no authority here! None! There is but one authority, and it is not you! You are a blight, you are a cancer! How does it feel Brody?

Yah.. Dalam sebuah film, dialog di dalamnya memiliki kekuatan. Runut dan mudah dipahami. Mungkin tidak ada aksi khas Hollywood yang penuh dengan tembakan serta ledakan. Yang ada hanyalah dialog dan konflik yang diperankan sangat apik oleh ketiga tokoh utama; “H”, agen Brody dan Younger.

Sekali lagi, Islam di sini hanyalah “bumbu” kebencian khas Hollywood. Jika ia diganti dengan ideologi yang lain hasilnya-pun sama. Sebab memang di dalam film ini hanyalah berbicara mengenai moral dan berbagai pekerjaan kotor yang jauh dari nurani di kala keadaan yang mendesak. Film ini mengajak untuk berpikir serta merenung. Merenung tentang batas yang sangat ambigu di kala konflik merebak, batas antara benar dan salah yang dipermainkan oleh keadaan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s